Kisah di Balik Jam Bancet, Penanda Waktu Salat Masjid Sabilurrosya'ad Bantul

Pradito Rida Pertana - detikNews
Rabu, 14 Apr 2021 17:29 WIB
Jam bancet atau jam matahari di MasjidSabilurrosyaad, Bantul, Rabu (14/4/2021).
Jam bancet atau jam matahari di MasjidSabilurrosya'ad, Bantul, Rabu (14/4/2021). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Bantul -

Masjid Sabilurrosya'ad di Pedukuhan Kauman, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, masih menggunakan jam matahari atau dalam bahasa Jawa disebut jam bancet sebagai patokan menentukan waktu salat. Jam tersebut dulunya dibawa santri-santri saat pulang mengaji dari Magelang.

Pantauan detikcom, jam bancet ini berbentuk persegi dengan cekungan di bagian atas. Cekungan tersebut terbuat dari bahan tembaga dan ada sebuah paku yang tertancap di tengah-tengah cekungan tersebut.

Pada cekungan itu juga terdapat angka 5,4,3,2,1 pada sisi kiri dan angka 7,8,9,10,11 pada sisi kanan. Di mana pada bagian tengah terdapat angka 12. Ketika terkena sinar matahari, bayangan paku tersebut mengarah ke angka tersebut, seperti jika menunjuk angka 12 berarti masuk waktu salat zuhur.

Ketua Takmir Masjid Sabilurrosya'ad, Haryadi, mengatakan bahwa keberadaan jam bancet tersebut sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Sedangkan pemasangannya secara permanen baru dilakukan tahun 1950.

"Kalau ini (jam bancet) sebenarnya sudah modern, ini dapat sebelum merdeka. Sebelumnya pindah-pindah yang masang karena memerlukan sinar matahari, sampai akhirnya di sini (sisi utara masjid). Kalau masangnya itu tahun 1950, barengan saat renovasi," kata Haryadi saat ditemui di Masjid Sabilurrosya'ad, Bantul, Rabu (14/4/2021).

Menyoal sejarah mendapatkan jam tersebut, Haryadi menyebut jika dari cerita para pendahulu ada santri setempat yang kerap mengaji di Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. Suatu ketika, usai mengikuti pengajian mereka membawa pulang jam bancet tersebut.

"Dari cerita simbah-simbah itu, ini (jam bancet) yang bawa dari santri-santri. Jadi mereka habis mengaji dari Tegalrejo (Magelang), terus pulangnya bawa alat ini. Tapi kalau tahun pasti tidak tahu, yang jelas sebelum Indonesia merdeka itu," ujarnya.

Jam bancet atau jam matahari di MasjidSabilurrosya'ad, Bantul, Rabu (14/4/2021).Jam bancet atau jam matahari di MasjidSabilurrosya'ad, Bantul, Rabu (14/4/2021). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)

Menurutnya, hingga saat ini jam bancet masih dipergunakan untuk mencocokkan waktu salat. Namun pencocokan waktu salat melalui jam tersebut tidak mencapai 5 waktu.

"Kalau 45 derajat itu (bayangan paku) masuk waktu salat asar. Terus kalau pagi, kalau habis bayangannya itu, kalau istilahnya kita itu sepenggalah. Habis sepenggalah itu sudah habis waktunya Duha, jadi ini bisa untuk menentukan Duha,zuhur jam 12," katanya.

"Nah, terus jam 12 ini pas titik matahari lurus (bayangannya) ini jam WIB belum tentu jam 12, bisa jam 11.40 kalau WIB. Jadi istiwak itu adalah waktu ibadah, kita hanya menggunakan untuk mencocokkan jam saja," lanjut Haryadi.

Begitu pula dengan waktu asar, bayangan dari paku akan menunjukkan ke arah angka 3. Angka tiga itu adalah waktu salat Asar, namun jika dicocokkan dengan waktu WIB tidak akan tepat menujukkan pukul 15.00 WIB.

"Itu bukan jam 3 WIB tapi 3 asar, jadi hitungannya kan bayangan. Kalau magrib habis (bayangannya), itu tandanya magrib. Yang jelas kalau pakai istiwak tidak bisa dibohongi," ucapnya.

"Sedangkan untuk waktu salat isya tidak bisa (dicocokkan dengan jam bancet), masuk Subuh juga tidak bisa tapi habis waktu Subuh bisa, kalau ada bayangan (ditandanya habis waktu Subuh dan masuk waktu salat Duha)," imbuh Haryadi.

Simak video 'Masjid Ka'bah di Makassar Jadi Destinasi Wisata Religi Saat Ramadhan':

[Gambas:Video 20detik]



(rih/sip)