Kisah Difabel Penjaja di Pekalongan, Tak Patah Asa Meski Sering Kemalingan

Robby Bernardi - detikNews
Jumat, 26 Mar 2021 13:30 WIB
Gading Ogi Syahputra, difabel remaja penjual rokok dan air minum keliling di Kabupaten Pekalongan, Jumat (26/3/2021).
Gading Ogi Syahputra, difabel remaja penjual rokok dan air minum keliling di Kabupaten Pekalongan, Jumat (26/3/2021). (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Kabupaten Pekalongan -

"Rokok... Rokok...," seorang difabel remaja laki-laki menjajakan dagangannya dengan suara terbata-bata di dekat Alun-alun Kabupaten Pekalongan siang ini.

Nama remaja itu Gading Ogi Yahputra. Setiap hari dia berkeliling menjual rokok dan air mineral dengan mengendarai sepeda roda tiganya.

Remaja berusia 16 tahun itu beberapa kali mencoba menawarkan barang dagangannya kepada orang-orang yang dilaluinya, meski dengan kalimat terbata-bata. Kaki telanjangnya mengayuh sepeda usangnya dengan mantap. Tubuhnya condong ke depan menyeimbangkan laju sepeda.

Postur kaki Ogi yang spesial memang selama ini membuatnya tak mampu berjalan. Tanpa sepeda, Ogi bergerak dengan cara menyeret tubuhnya atau merayap dengan posisi miring.

"Banyak yang mau ngasih uang. Saya tidak mau. Ya harus beli ini (mineral dan rokok)," kata Gading masih dengan suara terpatah-patah saat ditemui Pekalongan, Jumat (26/3/2021).

Gading mengatakan dia berjualan untuk membantu orangtua dan tabungan bekal di hari tuanya nanti.

"Tidak ingin menyusahkan," tuturnya lirih.

Diwawancara terpisah, ibu Gading, Susiyanti (46), menceritakan kondisi spesial anak keduanya itu sudah diketahui sejak dalam kandungannya.

"Sejak dalam kandungan sudah beda anak saya nomor dua ini. Hanya kedut-kedut seperti itu. Lahirnya saja disedot atau di-vacum," katanya.

Tak ingin berpangku tangan, Gading memutuskan berjualan keliling sejak dua tahun lalu. Awalnya Susiyanti sempat tak tega, tapi Gading tak patah arang meminta izin ibunya untuk jualan.

"Saya tidak tega, tapi dia terus menerus meminta untuk diizinkan jualan. Tidak ingin nganggur, ingin cari duit sendiri," tuturnya.

"Banyak orang yang merasa kasihan dan memberi uang ke Gading. Gading tidak mau menerimanya," lanjut Susiyanti.

Gading setiap berangkat dari rumahnya di Dukuh Bubak Desa Kebonagung Kecamatan Kajen untuk berjualan di sekitar alun-alun dan kantor Pemkab Pekalongan setiap usai sholat asar. Remaja yang juga tak lancar berbicara itu setiap harinya baru pulang berjualan sekitar pukul 22.00 WIB.

"Ia selalu bawa sarung untuk salat. Dia juga sering kehilangan barang dagangannya saat istirahat itu. Gading sudah tahu pencurinya. Namun dibiarkan saja," cerita Susiyati.

Dalam sehari, Gading bisa membawa pulang uang Rp 200 ribu-Rp 300 ribu. Uang itu digunakan Gading untuk modal dagang keesokan harinya dan ditabung.

"Sudah dua tahun ini anak saya ngumpulin uang. Ada yang ditabung, ada yang dibelikan tiga ekor kambing dan buat gerobak rokok untuk jualan bapaknya. Bapaknya kalau siang bertani, kalau malam jualan ngetem di pojok kampus," tuturnya.

Lihat juga video 'Perkenalkan Rahmawati, Gadis Difabel Cantik yang Jago Melukis':

[Gambas:Video 20detik]



(sip/mbr)