Raja-Ratu Keraton Agung Sejagat Bebas, Ini Kondisi Petilasannya di Purworejo

Rinto Heksantoro - detikNews
Senin, 22 Mar 2021 18:58 WIB
Petilasan Keraton Agung Sejagat, Senin (22/3/2021).
Petilasan Keraton Agung Sejagat, Senin (22/3/2021). (Foto: Rinto Heksantoro/detikcom)
Purworejo -

Keraton Agung Sejagat yang viral dan menghebohkan publik pada awal tahun 2020 berujung ke ranah hukum hingga sang raja dan ratunya masuk bui. Kini keduanya sudah bebas demi hukum karena masa penahannya habis. Lalu seperti apa kondisi bangunan 'keraton' yang mereka dirikan di Purworejo sekarang?

Kasus yang mencuat di awal tahun itu sempat membuat geger karena Raja Toto Santoso (42) dan Ratu Fanni Aminadia (41) diduga melakukan penipuan berkedok Keraton Agung Sejagat. Bahkan, setiap hari ribuan warga dari Purworejo dan luar kota mendatangi bangunan keraton tersebut secara langsung.

Diketahui, Keraton Agung 'tipu-tipu' Sejagat yang terletak di Desa Pogung Jurutengah, RT 03/ RW 01, Kecamatan Bayan berdiri di sebuah kebun seluas kurang-lebih 1.400 meter persegi dan mempunyai kelengkapan bak keraton pada umumnya. Ada benteng pertahanan dengan bahan hebel atau bata ringan setinggi sekitar 1,5 meter mengelilingi kompleks keraton.

Di sisi sebelah utara terdapat sendang atau pemandian seluas 15 meter persegi, sedangkan di sisi tenggara pelataran ada batu prasasti berdiameter 3 meter. Sementara itu, di pelataran terdapat rangka bangunan yang diperkirakan akan dijadikan pendapa.

Bangunan utama Keraton Agung Sejagat yang berbentuk aula didirikan di sisi selatan kompleks. Di bangunan berukuran 5x10 meter itulah sang raja Toto dan Ratu Fanni membangun singgasana. Pasangan yang mengaku suami istri itu kemudian mendeklarasikan keberadaan keraton itu pada Jumat (10/1/2020) lalu.

Kemunculan kerajaan baru itu membuat geger warga sekitar bahkan viral di media sosial. Namun, keberadaan kerajaan tersebut akhirnya justru meresahkan warga karena aktivitas di dalamnya dianggap menyimpang hingga akhirnya polisi dan Pemkab menutup bangunan kerajaan tersebut. Meski baru seumur jagung, akhirnya kerajaan yang didirikan Toto itu pun runtuh seketika.

Lalu seperti apakah kondisinya sekarang? Pantauan detikcom di lokasi hari ini, keraton itu kini sunyi tak berpenghuni. Gang utama menuju pintu gerbang yang dulu menjadi pasar tiban dan ramai dijejali pedagang kaki lima, kini terlihat lengang ditumbuhi rumput liar. Pintu gerbang keraton nampak masih tertutup batang bambu penghalang, pelepah daun kelapa dan sisa-sisa garis polisi yang mulai pudar.

Sang pemilik lahan, Chikmawan (53), yang dulu menjabat sebagai Resi di keraton itu mengaku sejak Raja Toto dan Ratu Fanni ditangkap polisi, sudah tidak ada lagi kegiatan apapun di keraton itu. Kini, pelataran keraton dimanfaatkan oleh Chikmawan untuk bercocok tanam.

"Daripada kosong ya saya tanami pohon pisang sama ketela, malah ketelanya udah pernah panen juga," kata Chikmawan ketika ditemui detikcom di rumah tetangganya saat memperbaiki kabel listrik, sore ini.

Batu prasasti yang dulu tampak sakral, kini teronggok tak berguna dan terbungkus terpal plastik abu-abu. Di tengah pelataran nampak bendera merah putih berkibar di atas tiang yang menjulang setinggi 10 meter.

Pemilik bangunan berharap bekas 'keraton' itu bisa jadi tempat wisata...

Selanjutnya
Halaman
1 2