Pemkot Solo Janji Bayi Tanpa Tempurung Kepala Dapat Perawatan

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Rabu, 10 Mar 2021 19:16 WIB
Pasangan Ayu Endang Pujiati dan Syarifuddin Hidayatullah, orang tua bayi yang lahir tanpa tempurung kepala di Solo saat ditemui di rumahnya, Sidorejo, Kelurahan Mangkubumen, Banjarsari, Solo, Selasa (9/3/2021).
Pasangan Ayu Endang Pujiati dan Syarifuddin Hidayatullah, orang tua bayi yang lahir tanpa tempurung kepala di Solo (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Seorang bayi laki-laki di Kota Solo, Jawa Tengah, Muhammad Arkan Naufal Hidayatullah, lahir tanpa tempurung kepala. Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memastikan akan terus memberikan pendampingan agar bayi tersebut mendapatkan perawatan medis.

"Kita kunjungan rumahnya, kita memantau kesehatannya. Kita pastikan dia punya jaminan kesehatan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo, Siti Wahyuningsih, saat dihubungi detikcom, Rabu (10/3/2021).

Ning, saaannya, mengatakan pihaknya memantau perkembangan bayi itu lewat puskesmas setempat. Ning menyatakan seharusnya bayi dari pasangan Ayu Endang Pujiati (29) dan Syarifuddin Hidayatullah (31) dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Namun kedua orang tua bayi menginginkan agar bayi dirawat di rumah.

"Sebetulnya itu perlu pelayanan primer, harusnya di rumah sakit, tapi kan pengin pulang. Dipinjami alat oksigen itu, nanti habis diisi lagi," ujar dia.

Ibu bayi, Ayu, menyebut kondisi anaknya stabil meski dirawat di rumah. Namun bayi tersebut memang tidak boleh banyak diangkat karena kondisinya rawan.

"Tidak boleh banyak diangkat. Paling hanya pas memandikan, memakaikan baju. Makanya pas minum susu itu harus pakai selang, tidak bisa langsung ASI," kata Ayu saat ditemui di rumahnya di Sidorejo, Kelurahan Mangkubumen, Banjarsari, Solo itu.

Bahkan, kata Ayu, Naufal menunjukkan perkembangan baik. Pergerakannya semakin aktif dan suaranya semakin keras.

"Dulu di rumah sakit suaranya tidak keluar, sekarang sudah kedengaran walaupun masih pelan. Tangannya sudah bisa gerak-gerak," kata Ayu.

Diberitakan sebelumnya, kondisi tanpa tempurung pada janin Naufal sudah diketahui sejak usia empat bulan kandungan. Sempat diberi pilihan untuk menggugurkan kandungan, Ayu, akhirnya memilih mempertahankannya.

"Sejak kandungan empat bulan itu sudah ketahuan sama dokternya, sebetulnya disarankan dikeluarkan saat itu, tetapi saya berpikir kalau sudah empat bulan itu sudah bernyawa. Saya tetap pertahankan sampai sekuatnya," kata Ayu saat dijumpai di rumahnya, Selasa (9/3).

Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan janinnya terpapar virus saat masih dalam kandungan. Sebetulnya, kata Ayu, janin dapat diselamatkan jika kondisi itu diketahui sejak usia kandungan dua bulan.

"Katanya karena toksoplasma. Sebetulnya kalau masih dua bulan bisa ditangani, tapi ketahuannya empat bulan. Awalnya saya USG di bidan, lalu usia empat bulan ke dokter baru ketahuan ada kelainan," ujarnya.

Padahal selama sembilan bulan mengandung Naufal, Ayu mengaku tidak pernah mengalami gejala sakit. Bahkan Naufal lahir dengan berat badan dan panjang normal, yakni 3 kg dan 48 cm. Dokter, kata dia, sempat mengatakan harapan untuk hidup janin itu hanya 30 persen. Kini dokter belum bisa memberi penanganan untuk menyelamatkan kondisi Naufal.

"Kata dokter tidak bisa dioperasi. Tapi ini terus dipantau rumah sakit dan Puskesmas. Harapannya kalau bisa terus stabil, nanti bisa diberi penanganan," cerita Ayu.

(ams/sip)