Ribuan Ulat Serbu Permukiman di Demak, Ternyata dari Sini Asalnya

Mochamad Saifudin - detikNews
Selasa, 09 Mar 2021 16:31 WIB
Fenomena ribuan ulat hutan mangrove menyerbu permukiman warga di Demak, Jawa Tengah, Senin (8/3/2021).
Fenomena ribuan ulat hutan mangrove menyerbu permukiman warga di Demak, Jawa Tengah, Senin (8/3/2021). (Foto: dok Kadus Sidorawuh, Demak)

Diwawancara terpisah, Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinpertan Kabupaten Demak, Heri Wuryanto, berpesan kepada warga agar hati-hati saat melakukan penyemprotan menggunakan bahan kimia di permukiman. Dia menyebut cairan kimia tersebut di antaranya dengan beiwaria basiana, metharisiun tricoderma (APH), pestisida sidametrin 50 EC (supermin).

"Tadi juga sudah disarankan kalau mau memaksakan diri untuk disemprot kimia, ya hati-hati karena ini lingkungan permukiman. Ada anak kecil dan sebagainya," kata Heri.

Diberitakan sebelumnya, fenomena ribuan ulat dari hutan mangrove menyerbu permukiman warga terjadi di Desa Sidogemah, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Ulat tersebut masuk ke rumah, menempel ke dinding hingga jemuran.

"Langsung saya survei, benar-benar ribuan ulat. Katanya gatal, pada masuk di rumah, jemuran dan pakaian," kata Kepala Dusun Sidorawuh, Desa Sidogemah, Agus Nur Wahab, saat dihubungi detikcom, Senin (8/3).

Fenomena ribuan ulat hutan mangrove menyerbu permukiman warga di Demak, Jawa Tengah, Senin (8/3/2021).Fenomena ribuan ulat hutan mangrove menyerbu permukiman warga di Demak, Jawa Tengah, Senin (8/3/2021). (Foto: dok Kadus Sidorawuh, Desa Sidogemah, Sayung, Demak)

Agus menjelaskan ribuan ulat tersebut asalnya dari hutan mangrove jenis brayo di wilayah setempat. Fenomena ribuan ulat tersebut sudah berlangsung beberapa hari ini.

"Ada sekitar 60 Kepala Keluarga (KK)/rumah yang terdampak, yang terdapat hutan lebatnya," ujar Agus.

Agus menambahkan, ulat tersebut berwarna hitam berukuran sekitar 3 cm lebih dan jalannya cepat. Ulat tersebut sebelumnya memakan daun mangrove jenis brayo hingga hutan nampak gersang.

"Ulatnya ribuan. Warga menyebut ulat brayo karena memakan daun pohon brayo. Di situ kan ada hutan brayo, itu sampai kayak hutan gersang dimakan ulat. Kayaknya (pohon) mati semua," ujarnya.


(rih/sip)