Hii! Ribuan Ulat Hutan Mangrove Serbu Permukiman Warga di Demak

Mochamad Saifudin - detikNews
Senin, 08 Mar 2021 15:49 WIB
Fenomena ribuan ulat hutan mangrove menyerbu permukiman warga di Demak, Jawa Tengah, Senin (8/3/2021).
Fenomena ribuan ulat hutan mangrove menyerbu permukiman warga di Demak, Jawa Tengah, Senin (8/3/2021). (Foto: dok. Kadus Sidorawuh, Demak)
Demak -

Fenomena ribuan ulat dari hutan mangrove menyerbu permukiman warga terjadi di Desa Sidogemah, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Ulat tersebut masuk ke rumah, menempel ke dinding hingga jemuran.

"Tadi pagi langsung saya survei, benar-benar ribuan ulat. Katanya gatal, pada masuk di rumah, jemuran dan pakaian," kata Kepala Dusun Sidorawuh, Desa Sidogemah, Agus Nur Wahab, saat dihubungi detikcom melalui telepon, Senin (8/3/2021).

Agus menjelaskan ribuan ulat tersebut asalnya dari hutan mangrove jenis brayo di wilayah setempat. Fenomena ribuan ulat tersebut sudah berlangsung sekitar dua hari ini.

"Mulai masuk ke permukiman warga sejak dua hari ini. Ada sekitar 60 Kepala Keluarga (KK)/rumah yang terdampak, yang terdapat hutan lebatnya," ujar Agus.

Agus menambahkan, ulat tersebut berwarna hitam berukuran sekitar 3 cm lebih dan jalannya cepat. Ulat tersebut sebelumnya memakan daun mangrove jenis brayo hingga hutan nampak gersang.

"Kejadiannya sejak 3 hari yang lalu, sampai hari ini sudah tiga hari. Ulatnya ribuan. Warga menyebut ulat brayo karena memakan daun pohon brayo. Di situ kan ada hutan brayo, itu sampai kayak hutan gersang dimakan ulat. Kayaknya (pohon) mati semua," ujarnya.

Fenomena ribuan ulat hutan mangrove menyerbu permukiman warga di Demak, Jawa Tengah, Senin (8/3/2021).Fenomena ribuan ulat hutan mangrove menyerbu permukiman warga di Demak, Jawa Tengah, Senin (8/3/2021). Foto: dok. Kadus Sidorawuh, Desa Sidogemah, Sayung, Demak.

Agus mengatakan belum ada upaya penanganan apapun atas kejadian tersebut. Pihaknya menyebut dibutuhkan alat untuk melakukan penyemprotan terhadap ribuan ulat di pohon-pohon mangrove tersebut.

"Karena pohonnya tinggi, belum ada tindakan dari desa. Nggak ada alatnya. Info dari Pak lurah tadi sudah berkoordinasi dengan berbagai dinas, karena info masuk baru tadi pagi," ujar Agus.

(rih/ams)