Menengok Jejak Dr Sardjito Rawat Pejuang Terluka di Rumah Tua Klaten

Achmad Syauqi - detikNews
Minggu, 07 Feb 2021 21:52 WIB
Rumah tua di Klaten yang dulunya jadi RS Darurat Dr Sardjito saat merawat pejuang luka-luka
Rumah tua di Klaten yang dulunya jadi RS Darurat Dr Sardjito saat merawat pejuang luka-luka (Foto: Acmad Syauqi/detikcom )
Klaten -

Nama Dr Sardjito identik dengan nama rumah sakit umum pusat (RSUP) di Yogyakarta. Dr Sardjito merupakan dokter yang berjasa merawat para pejuang di era perjuangan kemerdekaan Indonesia tahun 1945-1949 silam.

Jejak Dr Sardjito bisa terlihat di sebuah rumah tua di Dusun Sendang, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten. Rumah berukuran 8x12 meter persegi, milik almarhum Notodarsono itu berada di tepi jalan kampung.

Rumah tua itu bercat warna putih, abu-abu, dan hitam. Pada dinding rumah itu tampak tambalan semen di sana sini.

Sebagian tembok yang rusak karena cuaca memperlihatkan batu bata merah di bagian dinding. Bangunan rumah itu memiliki satu pintu utama, satu pintu di bagian samping dan berjendela kayu.

Memasuki bagian dalam rumah hanya ada satu kursi rotan, satu meja oval tua, dan dua sepeda motor. Bangunan lantai rumah itu juga banyak berlubang, dan lembab.

Berbeda dengan penampilannya kini, dulu rumah ini pernah difungsikan sebagai RS darurat. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 2200 meter persegi itu dibangun di perkampungan perbukitan kapur putih. Di sisi utara dusun merupakan perbukitan, sementara di sisi selatan ada Rawa Jombor dan Gunung Jabalakat yang dulunya digunakan sebagai tempat persembunyian para pejuang.

"Menurut ceritanya, rumah ini dulu digunakan untuk merawat para pejuang yang luka. Rumah ini jadi RS darurat," jelas cucu Notodarsono, Sulistyowati (42) saat ditemui detikcom di lokasi, Sabtu (6/2/2021).

Sulis menceritakan Dr Sardjito bukan warga Desa Krakitan, melainkan pejuang perang kemerdekaan. Sulis bercerita kampung kakeknya ini dulunya kerap ditembaki dan menjadi jujukan patroli sekutu. Namun, tidak ada jejak peluru ataupun ledakan di rumah milik kakeknya itu. Bangunannya pun masih utuh meski pernah direhab.

"Pernah diganti gentengnya sekitar tiga tahun lalu. Kalau tembok dan kayunya masih utuh," terang Sulis.

Warga lainnya, Sriyem (74) mengatakan Dr Sardjito dulu pernah tinggal di rumah kakak iparnya Asmo Ngali di Dusun Nglebak. Sementara rumah Notodarsono itu menjadi kantor Sardjito selama tinggal di Desa Krakitan.

"Jadi pak Sardjito itu mondoknya di rumah kakak saya Asmo Ngali. Tugasnya di rumah Notodarsono jaraknya tidak jauh," tutur Sriyem pada detikcom.

Notodarsono sendiri, kata Sriyem, merupakan seorang pedagang di Kota Yogyakarta. Kala itu rumah miliknya terbilang besar sehingga dijadikan rumah sakit darurat untuk merawat para pejuang.

"Ya hanya pedagang di Yogyakarta. Tapi tidak tahu kok rumahnya dipilih untuk merawat para pejuang, mungkin karena luas," sambung Sriyem.

Selanjutnya
Halaman
1 2