Khusus untuk Suntik Vaksin Corona, Bupati Sragen Modif Baju Muslimnya

Andika Tarmy - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 14:12 WIB
Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, menunjukkan bajunya yang dimodifikasi demi vaksin Corona, Senin (25/1/2021).
Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, menunjukkan bajunya yang dimodifikasi demi vaksin Corona, Senin (25/1/2021). (Foto: Andika Tarmy/detikcom)
Sragen -

Ada yang beda saat Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati mendapat vaksin Corona, hari ini. Bupati yang mengenakan jilbab tersebut bisa divaksin dan disiarkan tanpa harus masuk ke bilik tertutup. Bagaimana penjelasannya?

"Aku ini kan pakai jilbab, kalau baju digulung sampai tinggi terus piye (bagaimana)? Dan lagi lenganku besar agak sulit juga menggulung bajunya. Apalagi hari Senin itu baju kerjanya seperti semi jas," ujar Yuni, saat dihubungi detikcom, Senin (25/1/2021).

Padahal, lanjutnya, sebagai bupati dirinya harus divaksin untuk memberi contoh kepada masyarakat. Ajudan Yuni lalu punya ide untuk mengatasinya.

"Aku putuskan untuk bikin lubang dan memasang resleting (di lengan baju), sesuai dengan masuknya jarum. Itu idenya ajudanku, lalu kita konsultasikan ke Pak Hargi (kepala DKK Sragen)," imbuh Yuni.

Usulan tersebut disetujui oleh kepala DKK Sragen. Yuni kemudian memanggil penjahit untuk memodifikasi bajunya.

"Jadi Sabtu aku panggil tukang jahit. Aku modif baju lama, bukan jahit baju baru," terang Yuni.

Ide modifikasi baju ini berhasil. Dokter RSUD Sragen, Lulus Budiarto, tidak mengalami kesulitan saat menyuntikkan vaksin Corona ke lengan Yuni. Dengan demikian Bupati Yuni tak harus khawatir lengannya terlihat.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen membenarkan tersebut. Menurutnya, posisi Yuni sebagai bupati, membuat opsi memberikan vaksin di bilik tertutup dirasa kurang efektif.

"Kan beliau bupati. Terkait vaksinasi ini kan untuk memberikan contoh kepada masyarakat. Akan lebih meyakinkan jika proses pemberian vaksinasinya bisa dilihat," terang Hargiyanto.

Hargiyanto melanjutkan dirinya sempat berpikir untuk memberikan rompi khusus dengan diberi lubang di bagian lengan. Namun dirasa kurang pas secara estetika.

"Jadi kita cari cara bagaimana bisa divaksin tanpa perlu menggulung lengan dan memperlihatkan aurat. Cara tadi kami rasa sudah cukup baik," imbuhnya.

Namun cara tersebut, lanjut Hargiyanto, hanya akan diterapkan kepada bupati. Sementara untuk nakes perempuan yang lain, akan disuntik vaksin Corona di dalam bilik.

"Untuk nakes tetap masuk bilik, karena tidak mungkin kita minta modif bajunya semua," tegas Hargiyanto.

(sip/mbr)