Menelisik Kisah di Balik Rumah-rumah Pendek Pesisir Semarang

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Minggu, 24 Jan 2021 10:55 WIB
Rumah-rumah pendek di kampung Tambaklorok Kota Semarang, Minggu (24/1/2021).
Rumah-rumah pendek di kampung Tambaklorok Kota Semarang, Minggu (24/1/2021). (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Kota Semarang -

Penurunan muka tanah ditambah dengan rob di pesisir Kota Semarang, Jawa Tengah membuat banyak rumah yang permukaannya harus dinaikkan hingga lebih dari 2 meter. Sehingga rumah-rumah itu kini tampak sangat pendek dibanding rumah pada umumnya.

Salah satu lokasinya rumah-rumah pendek ini ada di Kampung Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara. Dari pantauan detikcom di RW 15, ada rumah-rumah pendek yang masih ditinggali. Sedangkan beberapa rumah bahkan sudah ditinggal pemiliknya karena kondisinya yang tenggelam atau ambles terkubur.

Salah satu rumah pendek yang masih dihuni yakni milik Ketua RW 15, Slamet Haryanto. Para penghuni nya harus menunduk setiap akan masuk rumah. Slamet mengatakan sudah tiga kali meninggikan lantai rumahnya itu.

"Membangun rumah ini tahun 1999, saya asli daerah sini. Dulu jarak lantai sampai eternit ini 4 meter. Saya tinggikan tiga kali, sekarang tidak ada 2 meter," kata Slamet di rumahnya, Sabtu (23/1/2021).

Ia kemudian menunjukkan beberapa bukti peninggian selain jarak lantai dan eternit yaitu bekas lubang stop kontak yang tadinya sejajar kepala sekarang sejajar dengan lutut. Kemudian meteran listrik yang posisinya ditinggikan tiga kali dan bekas pemasangan pertama yang kini tampak sejajar dengan mata kaki.

"Sejak awal rumah ini memang dibikin tingkat. Tahun 1999 tidak ada kepikiran rob, tapi soal penurunan tanah memang ada," ujarnya.

Dia bercerita ada area berjarak 2 kilometer dari bibir pantai yang hilang. Sebelum hilang, kata Slamet daerah itu berupa tanah lapang dan juga permukiman warga.

"Dulu itu masih ada tanah sekitar 2 kilometer sampai awal (tahun) 90, masih ada rumah-rumah. Tahun 90 mulai kena abrasi. Dulu saya remaja lapangan banyak banget, dulu ada lapangan bisa untuk sepak bola dua sampai tiga," ujarnya.

Rumah-rumah pendek di kampung Tambaklorok Kota Semarang, Minggu (24/1/2021).Rumah-rumah pendek di kampung Tambaklorok Kota Semarang, Minggu (24/1/2021). (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)

Namun air laut dan amblesan tanah lambat laun menenggelamkan kawasan itu. Slamet mengatakan ada beberapa dugaan penyebab makin tenggelamnya daerah pesisir itu. Selain faktor alam juga ada faktor manusia terkait pembangunan.

"Ya kalau boleh jujur juga karena ada pembangunan dan mega proyek yang pernah ada di dekat sini. Karena akhirnya air memilih tempat yang lebih rendah, ketika ada bangunan baru. Bisa dibayangkan berapa kubik air yang seharusnya di sana kemudian ke sini," jelasnya.

"Fenomena alam sekarang juga berbeda. Kemudian Pantura dulu berhektare-hektare tambak kini jadi bangunan. Mau nggak mau, air cari yang lebih rendah. Penurunan tanahnya juga agak kenceng," lanjut Slamet.

Ia berharap pihak yang berhubungan dengan pembangunan itu menggandeng warga terdampak agar bisa bangkit.

"Jadi bukan berupa bantuan ya, setidaknya digandeng, jadikan desa binaan, agar masyarakat mandiri. Ya kami sebagai warga negara yang baik berusaha agar bisa berdampingan dengan raksasa-raksasa itu, " ujarnya.

Slamet mengatakan hampir di setiap RT terdapat rumah pendek. Sebagian memang sudah ditinggal pemiliknya karena semakin 'tenggelam'.

"Ya ada yang sudah ditinggal pemiliknya. Hampir di setiap RT di wilayah saya ada (yang ditinggikan sehingga jadi rumah pendek). Tapi kalau sampai berjajar tidak ada," ujarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2