Menyusuri Sejarah Rel Kereta di Sepanjang Jalan Slamet Riyadi Solo

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Minggu, 24 Jan 2021 09:56 WIB
Kereta melintasi Jalan Slamet Riyadi Solo, Sabtu (23/1/2021).
Kereta melintasi Jalan Slamet Riyadi Solo, Sabtu (23/1/2021). (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Salah satu keunikan yang dapat ditemukan di Kota Solo adalah rel kereta api yang berada sejajar sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Pada waktu tertentu, kereta api (KA) tampak melintas beriringan dengan para pengendara di jalan protokol Kota Solo itu.

Keberadaan rel kereta itu sudah sejak sekitar tahun 1900. Pembangunan rel beriringan dengan berdirinya perusahaan swasta Solosche Tramweg Maatschappij (STM) pada tahun 1892.

Sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Heri Priyatmoko, mengatakan awalnya kereta menggunakan tenaga kuda hingga kemudian muncul kereta bertenaga uap atau setum.

"Yang naik kereta saat itu hanya orang Belanda atau China. Orang pribumi yang naik kereta hanya saudagar kaya. Karena ongkosnya cukup mahal," kata Heri saat dihubungi wartawan, Sabtu (23/1/2021).

Rute kereta berawal dari Benteng Vastenburg ke Gladag kemudian ke barat. Ada beberapa titik pemberhentian, seperti Kampung Kauman, Derpoyudan (timur Nonongan), Pasar Pon, Kebon Rojo (Sriwedari) hingga belok ke Purwosari.

Kemunculan lokomotif tenaga uap pada tahun 1905 kemudian membuat jalur kereta api diperpanjang. Dari Gladag atau Benteng Vastenburg, rel diperpanjang ke utara.

Rel melintasi Pasar Gede, Jalan Urip Sumoharjo hingga Stasiun Jebres. Namun dalam perjalanannya, jalur ke utara ini telah hilang.

"Saat itu kereta api menjadi alat transportasi utama di dalam kota. Lalu lintas semakin padat hingga diperlukan pengatur lalu lintas, terutama di Pasar Gede," ujar dia.

Setelah kekuatan listrik ada di Solo, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) selaku lembaga perkeretaapian milik pemerintah Hindia-Belanda, mengganti kereta uap dengan trem.

Jalur trem itu tak hanya beroperasi di dalam kota, namun juga sampai ke Wonogiri dan Boyolali. Bahkan NISM juga melayani jalur Solo ke Yogyakarta dan Semarang.

Sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Waskito Widi, mengatakan kemunculan STM tidak terlepas dari keberhasilan NISM membangun jalur kereta di Semarang (Vorstenlanden). Selain untuk penumpang, kereta juga mengangkut bahan pangan.

Meski di pusat kota, Jalan Slamet Riyadi dahulu tidak sebesar sekarang. Dahulu jalan utama berada di depan Pasar Klewer hingga ke barat (kini Jalan Rajiman).

"Dulu sempat menimbulkan konflik karena ada rel kereta di mana-mana, tapi lobi Belanda ke Keraton Kasunanan Surakarta berhasil," kata Widi.

Simak kelanjutan kisahnya di halaman berikutnya...

Selanjutnya
Halaman
1 2