301 Desa di DIY Ada di Kawasan Rawan Bencana, Terbanyak di Gunungkidul

Pradito Rida Pertana - detikNews
Kamis, 21 Jan 2021 17:35 WIB
Kantor BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (21/1/2021).
Kantor BPBD DIY. (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Yogyakarta -

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (BPBD DIY) menyebut ada 301 desa yang berada di kawasan rawan bencana di DIY. Sebagian besar berada di Kabupaten Gunungkidul, saat ini BPBD telah membentuk 255 Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai langkah antisipasi.

"Kalau kita bicara desa memang ada 301 desa dari 438 (desa) yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) itu," kata Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana kepada detikcom, Kamis (21/1/2021).

Secara rinci dia menyebut ke-301 desa itu terdiri dari 124 di Kabupaten Gunungkidul, 75 di Kabupaten Kulon Progo, 59 di Kabupaten Bantul, 30 Desa di Kabupaten Bantul, dan 13 Kalurahan di Kota Yogyakarta.

"Dari 301 desa paling banyak di Kabupaten Gunungkidul," ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa ada klasifikasi KRB di desa-desa tersebut, seperti halnya ada desa di kawasan potensi longsor, desa tersebut seperti di daerah Kalibawang, Gedangsari kemudian Kokap dan Prambanan. Kemudian kalau di Gunungkidul ada di Kecamatan Gedangsari, Nglipar, Paliyan dan Panggang.

"Artinya kalau kemudian bicara desa ada 301, dan jadi prioritas kita dalam pembentukan Destana. Kalau desa rawan banjir ya pembentukannya ada sesuai potensi ancaman banjir, itu sesuai dengan kebijakan Pemda dalam rangka mengurangi risiko bencana di DIY," katanya.

Pasalnya ada 12 jenis ancaman bencana di DIY. Pihaknya juga saat ini tengah menggencarkan pelatihan terkait ancaman tsunami dan Gempa bumi di SD yang ada di sepanjang pantai selatan. Begitu pula pelatihan untuk antisipasi erupsi Gunung Merapi.

"Jadi kalau kita kelompokkan ada 3 kelompok besar, potensi bencana geologi ada 3 gempa, tsunami dan erupsi Merapi. Potensi hidrometeorologi itu ada 7, banjir, banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, kebakaran, abrasi dan cuaca ekstrem," katanya.

"Kemudian lainnya ada 2 epidemiologi yakni wabah penyakit dan kegagalan teknologi. Jadi ada 12 bukan 13 ya potensi ancaman (di DIY)," imbuh Biwara.

Selain menggencarkan sosialisasi sebagai antisipasi bencana di desa-desa yang berada di kawasan rawan bencana itu, pihaknya berencana tahun ini melanjutkan pembentukan Destana. Mengingat hingga saat ini baru terbentuk 255 Destana.

"Baru 225 Destana sampai tahun 2020. Karena tahun lalu COVID-19 lalu alokasi anggaran nanti coba akselerasi mudah-mudahan tahun 2021 atau 2022," ucap Biwara.

Simak video 'Penyebab Guguran Lava Merapi Mengalir ke Arah Barat Daya':

[Gambas:Video 20detik]



(sip/ams)