Pakar Ungkap Untungnya Pegiat Ekonomi Divaksin Corona Setelah Nakes

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Selasa, 12 Jan 2021 20:13 WIB
Poster
Foto: Ilustrasi COVID-19 (Edi Wahyono)
Semarang -

Pegiat ekonomi diusulkan untuk masuk dalam prioritas vaksinasi COVID-19 setelah tenaga kesehatan (nakes). Pakar Ekonomi dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengungkapkan sejumlah keuntungan pegiat ekonomi divaksin Corona setelah nakes. Apa saja keuntungannya?

Ahli Ekonomi Unnes, Heriyanto, mengakui vaksinasi tahap pertama ini jumlahnya terbatas sehingga yang pantas menjadi prioritas memang untuk tenaga kesehatan. Namun, dia juga mengungkap sejumlah keuntungan pegiat ekonomi mendapatkan prioritas vaksinasi COVID-19. Salah satunya soal pemulihan perekonomian.

"Saat ini kita selesaikan kebutuhan dasar kita sebagai manusia yaitu adalah kesehatan. Saya yakin perlu sekali (pegiat ekonomi jadi prioritas vaksinasi). Pegiat ekonomi bisa naikkan gross domestic product (GDP) kita," kata Heriyanto saat dihubungi detikcom, Selasa (12/1/2021).

"Pengusaha, enterpreneur, pekerja yang butuh stamina yang baik dan kontak antara manusia juga masuk. Kalau ada, tahap berikutnya, vaksin untuk pegiat ekonomi, untuk guru, dosen, siswa, mahasiswa juga baik," ujar Dekan Fakultas Ekonomi Unnes itu.

Sementara itu, pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Budiyono, mengatakan prioritas vaksinasi untuk pejabat strategis memang penting sebagai ujung koordinasi penanganan COVID-19. Terlebih para pejabat strategis itu juga bakal berkaitan dengan perbaikan ekonomi.

"Mereka strategis untuk memutuskan dan ujung koordinasi dan harus sehat. Kalau terganggu maka bisa terganggu penanganan pandemi, pemulihan ekonomi dan lainnya," kata Budiyono.

Untuk aparat penegak hukum pun sama, harus selektif, yaitu yang memiliki posisi sebagai pengambil keputusan. Karena saat ini dalam jumlah vaksin yang masih terbatas, prioritas masih kepada nakes yang memiliki resiko tinggi tertular.

"Jadi menurut saya, saya yakin TNI Polri selektif, tidak semua, jadi yang bisa ambil keputusan, misal panglima TNI atau panglima Kodam, itu kan orang strategis yang harusnya sehat," ujarnya.

Untuk pelaku ekonomi, lanjut Budiyono, juga layak menjadi prioritas vaksinasi. Namun dengan jumlah vaksin yang masih terbatas pelaku ekonomi itu haruslah yang memiliki aspek strategis.

"Stepping selanjutnya bisa kepada pelaku ekonomi yang memiliki aspek strategis untuk bangkitkan ekonomi," ujarnya.

Namun ia kembali menegaskan, tenaga kesehatan masih sangat membutuhkan vaksin tersebut. Karena pada tahap pertama ini vaksin hanya bisa meng-cover sekitar 1 persen tenaga medis di Indonesia.

"Menurut saya yang pertama tadi memang tenaga kesehatan. Ini kan masih karena keterbatasan jumlah vaksin, kita lihat kan masih sekitar 1 persen ya. Tenaga kesehatan very high risk. Dengan vaksinasi jadi bisa proteksi diri dan menjaga tidak terjadi penularan," katanya.

(rih/ams)