Kembali Mengungsi, Warga Lereng Merapi Magelang Cerita Dengar Gemuruh

Eko Susanto - detikNews
Selasa, 05 Jan 2021 19:18 WIB
Suasana tempat evakuasi akhir (TEA) pengungsian Merapi Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Selasa (5/1/2020).
Suasana tempat evakuasi akhir (TEA) pengungsian Merapi, Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Selasa (5/1/2021). (Foto: Eko Susanto/detikcom)
Kabupaten Magelang - Warga di lereng Gunung Merapi dari Dusun Babadan 1, Desa Paten, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah kembali mengungsi ke tempat evakuasi akhir (TEA) karena peningkatan aktivitas Merapi. Warga mengaku semakin sering mendengar suara gemuruh puncak Merapi.

"Kalau malamnya setiap hari, kita merasakan suara gemuruh atau guguran. Sepulang dari pengungsian, ada kenaikan suara gemuruh dan intensitasnya lebih sering," kata Koordinator Pengungsi Dusun Babadan 1, Wahyudi, saat ditemui wartawan di TEA Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Selasa (5/1/2021).

Wahyudi menjelaskan, warga Dusun Babadan 1 sebelumnya sudah mengungsi ke TEA. Namun pada Senin (14/12), warga memilih pulang ke rumah. Saat di rumah, warga semakin sering mendengar suara gemuruh yang berasal dari puncak Merapi.

"Warga kembali mengungsi terkait kondisi Merapi yang saat ini lagi naik tinggi. Merapi ini, pas kita kemarin pulang ada penurunan, tapi sekarang ada kenaikan lagi," kata Wahyudi.

Sementara itu, salah satu pengungsi warga Dusun Babadan 1, Nur Intan, mengakui hal yang sama. Dia hampir setiap hari mendengar suara gemuruh dari Merapi.

"Ikut mengungsi karena bencana Gunung Merapi, gemuruh terus. Sekarang setiap hari ada suara gemuruh," kata Nur Intan di TEA Banyurojo.

Diberitakan sebelumnya, warga di lereng Gunung Merapi dari Dusun Babadan 1, Desa Paten, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kembali menuju lokasi pengungsian tempat evakuasi akhir (TEA) Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan. Para pengungsi kembali mengungsi lagi karena peningkatan aktivitas Gunung Merapi.

Para pengungsi dari Dusun Babadan 1 tersebut sampai di TEA Banyurojo sekitar pukul 13.50 WIB tadi. Mereka diangkut menggunakan sekitar 20 armada antara lain dari Kodim 0705/Magelang, Dishub, BPBD Kabupaten Magelang dan mobil warga setempat.

Berdasarkan data pengungsi dari Dusun Babadan 1 terdata 124 orang. Para pengungsi dari kelompok rentan terdiri lansia, difabel, ibu hamil dan anak-anak.

"Jadi diimbau pemerintah untuk kembali ke TEA, ya mengikuti seperti kemarin pulang membuat surat pernyataan kalau 'kita tetap ngikuti anjuran pemerintah'," kata Koordinator Pengungsi Dusun Babadan 1, Wahyudi, saat ditemui di TEA Banyurojo, Selasa (5/1).

Sementara itu, Sekretaris Desa Banyurojo, Agus Firmansah, mengatakan kedatangan pengungsi ini untuk kedua kalinya.

"Kedatangan pengungsi ini kan kedatangan jilid dua. Mereka pulang pada tanggal 14 Desember, sifatnya izin pulang sementara sehingga sudah kurun waktu 20 hari. Kemarin kami mengundang BPPTKG untuk menjelaskan kondisi Merapi saat ini. Penjelasan dari Bu Dewi BPPTKG kondisi Merapi bukan membaik, tapi semakin meningkat aktivitasnya. Untuk itu, mereka mau kembali ke TEA Banyurojo," kata Agus. (rih/sip)