Tentang Yahya Cholil Staquf: Kiai Asal Rembang yang Jadi Kandidat Menag

Muchus Budi R. - detikNews
Selasa, 22 Des 2020 15:40 WIB
Yahya C Staquf, biofgrafis
Yahya Cholil Staquf (Foto: Fuad Hasim)
Yogyakarta -

Nama Yahya Cholil Staquf santer disebut-sebut jelang reshuffle Kabinet Kerja II pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Yahya digadang-gadang menduduki posisi Menteri Agama.

Dalam isu reshuffle Kabinet Indonesia Maju yang santer beredar, nama Yahya Cholil Staquf disebut-sebut bakal menjadi Menteri Agama yang baru. Bersamaan dengan nama Yahya Cholil Staquf, muncul nama Sandiaga Uno, Tri Rismahariani, dan M Luthfi yang masuk bursa menteri.

Ketua DPP PKB Faisol Riza menyatakan sejumlah nama calon menteri yang beredar selama ini hampir dipastikan benar. Ada 3 sosok yang disebutnya sudah pasti menjadi menteri, namun dia tidak menyebutkan nama.

"Saya kira nama-nama yang selama ini beredar, saya meyakini itu benar," kata Faisol saat dihubungi detikcom, Selasa (22/12/2020).

Seperti apa sepak terjang Katib Aam NU Yahya Cholil Staquf ini?

Dihimpun detikcom dari berbagai sumber, Selasa (22/12/2020), Yahya Cholil Staquf lahir di Rembang, Jawa Tengah, 16 Februari 1966. Yahya Cholil Staquf adalah putra dari (alm) KH Cholil Bisri, pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibien Rembang yang juga salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa. KH Cholil adalah kakak kandung KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus, sehingga dengan demikian Yahya adalah kemenakan dari Gus Mus.

Yahya dibesarkan dibesarkan dalam lingkungan pondok pesantren tradisional. Selain belajar langsung kepada ayah dan pamannya, Yahya juga sempat menjadi santri asuhan (alm) KH Ali Maksum di Krapyak, Yogyakarta, saat itu Yahya menuntut ilmu di Jurusan Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Selanjutnya Yahya bertolak ke Arab Saudi untuk mendalami ilmu agama. Yahya yang semula hanya dikenal di kalangan santri, menjadi lebih moncer namanya ketika ditunjuk sebagai salah satu juru bicara (jubir) presiden para era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Kala menjabat sebagai jubir, Yahya adalah sosok yang membacakan Dekrit Presiden saat terjadi ketegangan politik antara Gus Dur dengan DPR/MPR. Dekrit itulah yang kemudian dijadikan triger untuk melengserkan Gus Dur dari kursi kepresidenan oleh lawan-lawan politiknya melalui Sidang Istimewa MPR, pertengahan 2001.

Yahya selanjutnya aktif di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Namun kebersamaan itu kandas. Dia pecah kongsi dengan kepengurusan PKB hasil Muktamar Semarang tahun 2005. Selanjutnya Yahya lebih menekuni dunia keilmuan dengan kembali ke Ponpes Raudlatut Thalibien di Leteh, Rembang Kota, Kabupaten Rembang.

Di masa pemerintahan Jokowi periode pertama, Yahya termasuk dalam keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), menggantikan KH Hasyim Muzadi yang meninggal dunia.

Selanjutnya: Kunjungi Israel dan Vatikan

Selanjutnya
Halaman
1 2