Terima Suap Setengah Miliar dari Seleksi Perangkat Desa, Pasutri Ini Dibui

Andika Tarmy - detikNews
Kamis, 17 Des 2020 16:16 WIB
Pasutri di Sragen ditahan gegara dugaan suap penerimaan perangkat desa, Rabu (26/8/2020).
Foto: Pasutri di Sragen ditahan gegara dugaan suap penerimaan perangkat desa, Rabu (26/8/2020). (Andika Tarmy/detikcom)
Sragen -

Mantan Kades Trobayan, Kecamatan Kalijambe, Suparmi dan suaminya Suyadi divonis 2 tahun penjara terkait kasus suap seleksi perangkat desa. Keduanya terbukti menerima suap setengah miliar lebih untuk meloloskan seleksi perangkat desa.

"Hakim menjatuhkan hukuman masing-masing terdakwa dua tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider dua bulan kurungan. Lebih ringan enam bulan dari tuntutan JPU," ujar Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Sragen, Agung Riyadi, saat dihubungi detikcom, Kamis (17/12/2020).

Vonis 2 tahun bui itu lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yakni 2,5 tahun. Dalam kasus ini, kedua pasutri itu terbukti menerima duit hingga setengah miliar dari para korbannya.

"Faktanya dia menerima gratifikasi sebesar total Rp 515 juta. Sempat dikembalikan ke para korban sebesar Rp 325 juta, namun itu tidak menggugurkan pidananya," jelas Agung.

Agung menyebut sidang putusan ini berlangsung secara daring, kedua terdakwa mengikuti sidang di Lapas Kelas IIA Sragen, majelis hakim di Pengadilan Tipikor Semarang, sementara JPU mengikuti sidang dari Kejari Sragen.

"Proses ke depan kita tunggu. Karena terdakwa menyatakan pikir-pikir, kita pun pikir-pikir. Tenggatnya tujuh hari dari vonis ditetapkan," terang Agung.

Dalam kasus ini, Suparmi dan suaminya Suyadi terbukti menerima suap dalam pelaksanaan seleksi perangkat desa tahun 2018. Para terdakwa menjanjikan para korbannya lolos seleksi perangkat desa dengan imbalan hingga ratusan juta rupiah.

Perkara ini bermula saat adanya penerimaan seleksi perangkat desa pada 2018 lalu. Kedua tersangka mendatangi para calon perangkat desa dan meminta sejumlah uang sebagai syarat mereka masuk dalam penerimaan perangkat desa tersebut.

"Jadi ada empat orang yang dimintai uang. Jumlahnya bervariasi, ada yang dimintai Rp 200 juta, Rp 165 juta dan Rp 100 juta. Total yang diterima kedua tersangka Rp 515 juta. Setelah pengumuman, ternyata ada tiga orang yang tidak lolos seleksi," kata Agung, Rabu (26/8) lalu.

Para korban yang tidak terima akhirnya melapor ke Polres Sragen karena kedua tersangka tidak memenuhi permintaan mereka untuk mengembalikan uang.

Kedua tersangka dijerat dengan Pasal 12 huruf A dan E atau pasal 11 UURI no 20/2001 tentang perubahan UU RI 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1 miliar.

(ams/rih)