Tombak-Keris Ratusan Tahun di Banyumas Dulunya Dicuci-Digelar Pengajian

Arbi Anugrah - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 15:56 WIB
Penyerahan benda pusaka berupa tombak hingga keris kuno ke Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Banyumas, Rabu (25/11/2020).
Salah satu manuskrip yang diserahkan Rasiti ke Pemkab Banyumas, Rabu (25/11/2020). (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)
Banyumas -

Seorang nenek di Banyumas, Rasiti (69), menyerahkan sejumlah benda pusaka kuno milik keluarganya ke Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Banyumas. Rasiti bercerita benda pusaka kuno itu mulanya dirawat ayahnya, Mulyawiredja Cartam.

"Saya tidak tahu kakek saya dulu tumenggung apa adipati, saya tidak tahu, pokoknya itu peninggalan dari ayah saya. Waktu hidupnya juga tidak bilang apa-apa, cuma bapak saya suka didatangi oleh penilik-penilik kebudayaan," kata Rasiti usai penyerahan benda pusaka di kantor Dinas Arpusda Banyumas, Jalan Jendral Gatot Subroto, Banyumas, Rabu (25/11/2020).

Rasiti mengenang kala itu ayahnya yang seorang penderes kelapa kerap didatangi penilik kebudayaan. Seingatnya dulu, saat ayahnya masih hidup benda-benda pusaka itu sempat diberi ritual khusus.

"Saat zamannya bapak itu selalu ada pengajian setahun sekali di bulan Maulud Nabi, dicuci dimandikan, setelah itu sudah tidak ikuti tradisi itu, hanya disimpan saja," kenangnya.

Rasiti menyebut ayahnya wafat di usia 74 tahun pada 1994 silam. Dia mengaku tidak mendapatkan cerita ataupun wasiat terkait benda-benda pusaka tersebut.

"Barang itu peninggalan bapak saya, bapak saya dari kakek, kakek saya Santarwi. Jadi saya tidak tahu peninggalan itu, setelah bapak saya meninggal tahun 1994, lalu yang meneruskan merawat ibu saya, sampai tahun 2011, tahun 2011 ibu saya meninggal dan ini baru dibuka," jelasnya.

Benda-benda pusaka kuno itu berupa dua naskah kuno yang ditulis pada jeluang dalam tulisan Jawa, 1 tasbih, 1 keris kecil berwarna kuning emas, 1 keris sedang berwarna cokelat, 1 guci kecil, 1 guci sedang, 1 ketel atau ceret kuningan, 1 tombak, 1 tas kuno berisi perca dan 1 padupan. Mengutip berita acara penyerahan, manuskrip kuno itu merupakan peninggalan Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Agung.

Sejak ayahnya wafat, benda-benda pusaka kuno itu disimpan dalam sebuah tas yang terbuat dari anyaman bambu dilapis kulit. Rasiti pun berharap benda-benda pusaka peninggalan kakeknya itu bisa terawat di tangan Dinas Arpusda Banyumas.

"Setelah saya tahu sini (Dinas Arpusda) akhirnya saya mantep sekali untuk menyerahkan barang ini, karena saya takut punah barang itu," ucapnya.

(ams/rih)