Nenek Ini Serahkan Tombak-Keris Berusia Ratusan Tahun ke Pemkab Banyumas

Arbi Anugrah - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 14:45 WIB
Penyerahan benda pusaka berupa tombak hingga keris kuno ke Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Banyumas, Rabu (25/11/2020).
Penyerahan benda pusaka berupa tombak hingga keris kuno ke Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Banyumas. (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)
Banyumas - Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinas Arpusda) Kabupaten Banyumas menerima hibah sejumlah benda pusaka kuno dari seorang nenek. Benda-benda pusaka itu terdiri dari tasbih, tombak, keris, hingga guci kuno yang diduga berusia ratusan tahun.

Pantauan di Dinas Arpusda Banyumas, Rabu (25/11/2020), ada 11 benda pusaka yang diserahkan oleh Rasiti (69). Benda-benda pusaka itu terdiri dari dua naskah kuno yang ditulis pada jeluang dalam tulisan Jawa, 1 tasbih, 1 keris kecil berwarna kuning emas, 1 keris sedang berwarna cokelat, 1 guci kecil, 1 guci sedang, 1 ketel atau ceret kuningan, 1 tombak, 1 tas kuno berisi perca dan 1 padupan.

Benda-benda pusaka kuno itu disimpan dalam sebuah tas yang sudah lapuk dan berlubang di beberapa sisinya. Tas itu tampak terbuat dari anyaman bambu dilapis kulit.

"Jadi kemungkinan lebih dari 200 tahun, karena 200 tahun dari sekarang 1830-an. Katakan 1825 era perang Diponegoro, dan di perang Diponegoro kertas dari barat itu sudah ada, dan pemakaian deluang sebelum kertas. Dari situ saja sudah diketahui, tapi kita belum bisa memastikan," kata salah seorang pelestari tosan aji yang diperbantukan Dinas Arpusda, Indra Adityawarman (31), saat ditemui wartawan di Jalan Jendral Gatot Subroto, Banyumas, Rabu (25/11/2020).

Dari pengamatannya, Indra menduga manuskrip pada jeluang itu ditulis menggunakan aksara Jawa awal. Namun, untuk memastikannya butuh analisis dari filolog maupun arkeolog untuk meneliti peninggalan pusaka tersebut.

"Nanti kan mungkin ada uji material, karena jeluang itu sendiri kan ada beberapa jenis. Jeluang yang biasa digunakan pihak karaton atau jeluang jeluang yang biasa dipakai di situs situs pertapaan, itu kualitasnya akan beda. Mungkin dari situ arkeolog nanti akan bisa memastikan apa," ujarnya.

Sementara itu, pemberi hibah, Rasiti (69), menyebut benda-benda pusaka itu merupakan peninggalan ayahnya Mulyawiredja Cartam. Benda-benda itu menurutnya merupakan peninggalan turun-temurun dari kakeknya Santarwi.

Rasiti (69) serahkan benda-benda kuno ratusan tahun ke Pemkab Banyumas, Rabu (25/11/2020).Rasiti (69) serahkan benda-benda kuno ratusan tahun ke Pemkab Banyumas, Rabu (25/11/2020). (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)

"Barang itu peninggalan bapak saya, bapak saya dari kakek, kakek saya Santarwi. Jadi saya tidak tahu peninggalan itu, setelah bapak saya Meninggal tahun 1994, lalu yang meneruskan merawat ibu saya, sampai tahun 2011, tahun 2011 ibu saya meninggal dan ini baru dibuka," terang Rasiti.

Rasiti menyebut benda-benda itu disimpan dalam tas kuno yang sudah lapuk. Rasiti sendiri mengaku tidak pernah diberi cerita oleh ayahnya terkait peninggalan benda pusaka tersebut.

"Saya tidak tahu kakek saya dulu tumenggung apa adipati, saya tidak tahu, pokoknya itu peninggalan dari ayah saya. Waktu hidupnya juga tidak bilang apa apa," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Arpusda Joko Wikanto mengapresiasi hibah ini. Pihaknya berharap penyerahan benda pusaka kuno itu bisa menambah pengetahuan untuk generasi mudah.

"Dengan adanya penyerahan naskah kuno yang ada beberapa item itu tentunya akan menambah banyak khasanah yang ada di Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah yang endingnya adalah bisa dilihat oleh generasi penerus. Khususnya warga Banyumas maupun di luar Banyumas yang ingin mendengarkan, melihat cerita dari silsilah barang tersebut," tutur Joko. (ams/sip)