Gempa Makin Intens, Ini Catatan Aktivitas Merapi Sepekan Terakhir

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Jumat, 20 Nov 2020 20:13 WIB
BPPTKG menyebut adanya guguran di Gunung Merapi pagi ini, Rabu (18/11). Suara guguran terdengar 3 kali dan terdengar di 3 pos pengamatan.
BPPTKG menyebut adanya guguran di Gunung Merapi, Rabu (18/11/2020). Suara guguran terdengar 3 kali dan terdengar di 3 pos pengamatan. (Foto: Agus Septiawan/detikcom)
Sleman -

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat ada perubahan morfologi dinding kawah Gunung Merapi hingga intensitas gempa yang meningkat selama sepekan terakhir. Perubahan morfologi dinding Merapi ini tercatat dalam lampiran mingguan periode 13-19 November 2020.

"Analisis morfologi area kawah berdasarkan foto dari sektor tenggara tanggal 19 November terhadap tanggal 11 November 2020 menunjukkan adanya perubahan morfologi kubah, yaitu runtuhnya sebagian kubah lava 2018," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (20/11/2020).

Hanik menjelaskan perubahan morfologi dinding kawah itu terjadi akibat runtuhnya kubah lava yang lama. Hanik menegaskan hingga saat ini belum teramati terbentuknya kubah lava baru.

"Sedangkan berdasarkan analisis foto drone tanggal 16 November 2020, teramati adanya perubahan morfologi dinding kawah akibat runtuhnya lava lama, terutama Lava1997 (selatan), Lava1998, Lava1888 (barat) dan Lava1954 (utara), selain itu belum teramati kubah lava baru," terangnya.

Hanik menyebut saat ini volume kubah lava Merapi masih tetap yakni 200 ribu meter kubik. "Adapun perhitungan volume kubah lava berdasarkan foto drone tersebut sebesar 200.000 m3," ujarnya.

Selain itu, BPPTKG mencatat kegempaan Merapi dalam minggu ini tercatat 262 kali gempa vulkanik dangkal (VTB), 1.939 kali gempa fase banyak (MP), 7 kali gempa low frequency (LF), 441 kali gempa guguran (RF), 352 kali gempa hembusan (DG) dan 8 kali gempa tektonik (TT).

"Intensitas kegempaan pada minggu ini lebih tinggi dibandingkan minggu lalu," ungkapnya.

Sementara untuk deformasi Merapi tercatat laju pemendekan rata-rata 9 cm per hari.

"Deformasi Merapi yang dipantau dengan menggunakan EDM pada minggu ini menunjukkan adanya laju pemendekan jarak sebesar 9 cm/hari," paparnya.

BPPTKG juga mencatat munculnya asap berwarna putih. Kemunculan asap ini dengan ketebalan tipis hingga tebal tapi bertekanan lemah.

"Tinggi asap maksimum 200 m teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Selo pada tanggal 16 November 2020 jam 07.45 WIB," ucapnya.

Guguran juga teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Babadan dengan jarak luncur maksimal sejauh 2 km di sektor barat ke arah hulu Kali Lamat pada Sabtu (14/11) pukul 06.15 WIB. Pada minggu ini turut dilaporkan terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi dengan intensitas curah hujan tertinggi sebesar 64 mm/jam selama 60 menit di Pos Kaliurang pada Jumat (13/11).

"Tidak dilaporkan terjadi lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Merapi," sebutnya.

Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental maka disimpulkan terdapat peningkatan aktivitas vulkanik Merapi. BPPTKG menetapkan status aktivitas Gunung Merapi Siaga.

"Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dan awan panas sejauh maksimal 5 km," pungkasnya.

(ams/rih)