BPIP Deklarasi Pancamandala di Yogya, Sultan: Pancasila Selalu Digoyang

Pradito Rida Pertana - detikNews
Rabu, 18 Nov 2020 18:35 WIB
Jumpa pers Sri Sultan HB X dan Ketua BPIP Yudian Wahyudi di Kepatihan Yogyakarta, Rabu (18/11/2020).
Jumpa pers Sri Sultan HB X dan Ketua BPIP Yudian Wahyudi terkait deklarasi Pancamandala di Kepatihan Yogyakarta, Rabu (18/11/2020). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Yogyakarta -

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mendeklarasikan Pancamandala, sebuah forum untuk memperkuat Pancasila. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebut forum ini dibentuk karena Pancasila sering digoyang.

"Forum ini bukan sebagai organisasi masyarakat (ormas) dan sebagainya ya, bukan seperti itu. Ini adalah forum dialog yang dibentuk karena saat ini Pancasila selalu digoyang dengan paham yang tidak kita kenal," kata Sultan usai deklarasi Pancamandala di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Rabu (18/11/2020).

Menurutnya, Pancamandala menjadi wadah untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran yang lebih baik dalam mengaplikasikan Pancasila dalam konteks kemasyarakatan. Hal ini karena pemerintah adalah sumber hukum, dan masyarakat adalah subjek atau pelakunya.

"Jadi untuk mewujudkan masyarakat yang taat hukum, sangat penting untuk menerapkan dan mengaplikasikan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat," ujarnya.

Oleh karena itu Sultan menyebut jika pemerintah juga harus konsisten untuk memegang teguh Pancasila sebagai ideologi. Pasalnya Bhinneka Tunggal Ika tidak sekadar gambar atau semboyan saja, tapi harus menjadi strategi integrasi bangsa.

"Kalau lambang negara tidak punya arti apa-apa ya susah. Harus menjadi strategi integrasi bangsa yang berarti etnik apapun, latar belakang agama apapun, kaya, miskin dan sebagainya tidak ada persoalan bagi sesama anak bangsa untuk bersatu," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua BPIP Yudian Wahyudi mengatakan dengan diterimanya deklarasi jejaring Pancamandala dan pembumian Pancasila oleh Gubernur DIY, memberikan arti penguatan kembali sejarah DIY yang menjadi salah satu tolak ukur dalam berbangsa dan bernegara.

"Hal paling utama yang dapat diteladani dari Yogyakarta adalah, dalam mempersatukan bangsa ini di saat-saat krisis. Sehingga jika melihat kembali pada masa penjajahan, di mana dahulu bangsa ini bersatu melawan penjajah dari luar, maka pada saat ini kita bersama melawan kesulitan yang ada di dalam," kata Yudian.

Dia menyebut peran sentral DIY dalam pembangunan kenegaraan Indonesia menjadi pembeda dengan daerah lain. Yudian berharap bahwa setelah deklarasi jejaring Pancamandala dan pembumian Pancasila di DIY ini nantinya dapat turut diikuti oleh daerah-daerah lain di Indonesia.

"Yogyakarta dikenal sebagai Kota Pelajar, sehingga kami juga bekerja sama bersama kampus, media, dan juga kementerian yang bersatu untuk menunjukkan kembali simbol perjuangan. Ini merupakan salah satu kebangkitan pemahaman dan pengamalan Pancasila dalam rangka menuju Indonesia maju," kata Yudian.

(sip/rih)