Cerita Warga Banyumas Soal Awal Mula Teror Semut 3 Tahun Lalu

Arbi Anugrah - detikNews
Senin, 16 Nov 2020 12:57 WIB
Petugas mengerahkan water cannon untuk meredam teror semut di Desa Pageraji, Banyumas
Petugas mengerahkan water cannon untuk meredam teror semut di Desa Pageraji, Banyumas. (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)
Banyumas -

Teror semut di Desa Pageraji, Cilongok, Banyumas, bermula di tahun 2017. Saat itu warga melihat banyak semut berdatangan dari arah lokasi penggergajian kayu lalu merambati benda-benda di pekarangan warga, tak mengira jika semut-semut itu kini berubah menjadi teror meresahkan.

Munjiat (50), seorang warga Desa Pageraji mengatakan, pada tahun 2017 itu dia melihat gerombolan semut mulai menyeberang ke rumah warga. Dirinya saat itu bahkan sempat menghalau semut-semut tersebut.

"Berawal dari tempat gergaji kayu, saya lihat dulu baris-barisnya semut itu, menyeberang ke arah utara, Tapi waktu itu saya tidak kepikiran mau sampai sebanyak ini. Ternyata lambat laun selama tiga tahun lebih, ternyata sudah mewabah hampir satu RT," kata Munjiat saat ditemui di lokasi, Minggu (15/11/2020).

Munjiat mengaku mengetahui awal mula semut-semut itu mulai menyebar dari lokasi awal di penggergajian kayu lalu berkembang biak di sekitar rumah warga dan pohon-pohon.

"Baru terjadi sekitar kurang lebih tiga tahun terakhir, sebelumnya tidak pernah. Saya tahu persis ada semut berbondong-bondong dari sana ke sini (dari tempat penggergajian kayu ke rumah warga yang bersebelahan)," jelasnya.

Saat itu, Munjat mengaku sempat tercengang dengan banyaknya semut yang berbondong-bondong pindah dari satu ranting yang menempel ke rumah warga. Dirinya saat itu berinisiatif menghalau dengan memasang tali tambang agar semut itu kembali ke pohon, namun semakin tahun semut tersebut semakin banyak.

Munjiat mengatakan saat ini keberadaan semut-semut tersebut sudah sangat menganggu. Semut telah menyerbu segala penjuru kampung di siang maupun malam.

"Kalau (warga) tidur, semut berjatuhan menggerumut lalu menggigit. Pohon kelapa juga banyak (petani) yang tidak dideres (disadap) karena dikuasai semut. Sangat meresahkan. Orang beribadah ya pada gatal-gatal digigit. Orang masak, orang tidur, terganggu semua," ujarnya.

Warga sudah berupaya melakukan penyemprotan secara mandiri menggunakan sabun, bahan kimia untuk tanaman hingga obat penyemprot nyamuk. Namun tidak menyelesaikan masalah, semut-semut tersebut masih terus muncul dan semakin banyak.

Saat ini, Pemkab Banyumas melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berupaya melakukan penyemprotan untuk memusnahkan semut-semut tersebut. Penyemprotan pestisida juga dilakukan dengan water cannon.

(mbr/ams)