Gunung Merapi Siaga, Warga di 3 Desa Magelang Mulai Mengungsi

Eko Susanto - detikNews
Jumat, 06 Nov 2020 14:40 WIB
Magelang -

Status Gunung Merapi ditingkatkan menjadi Siaga sejak kemarin. Warga di sembilan dusun, di tiga desa di Kecamatan Dukung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah mulai mengungsi hari ini.

"Semalam ada kesepakatan dengan Desa Paten, Krinjing dan Desa Ngargomulyo sepakat mengungsinya baru hari ini. Karena bisa kita pahami, jam 12.00 WIB baru ditetapkan siaga, sore kondisi tidak cukup siap secara psikologi, hari ini bisa dilakukan evakuasi," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto, dalam press conference di Command Center Pusaka Gemilang Pemkab Magelang, Jumat (6/11/2020).

"Evakuasinya sesuai dengan konsep dengan desa bersaudara, mengungsi secara mandiri. Mereka mengungsi, bukan diungsikan, konsep desa bersaudaraan pemberdayaan masyarakat," sambungnya.

Edy menerangkan warga mengungsi secara bertahap. Kelompok pengungsi pertama dilakukan kelompok usia rentan yakni anak-anak, ibu hamil, lansia, orang sakit, dan difabel.

"Hari ini dari Krinjing, Dusun Trono ada 50 orang, Trayem ada 50 orang dan Pugeran 60 orang. Mereka mengungsi dengan kendaraan mereka sendiri yang dikawal dengan ambulans. Dari Krinjing ini menuju Desa Deyangan," tuturnya.

Kemudian untuk Desa Paten, terdiri dari Dusun Babadan I dan Babadan II juga turun dan mengungsi hari ini. Mereka mengungsi ke desa penyangga di Desa Banyurojo dan Mertoyudan.

Sementara untuk Desa Ngargomulyo warganya akan mengungsi ke Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan. Edy menyebut tempat pengungsian selama pandemi virus Corona ini menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan dan jaga jarak.

Suasana pengungsian warga lereng Merapi di Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, yang diisi warga dari Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Magelang, Jumat (6/11/2020).Suasana pengungsian warga lereng Merapi di Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, yang diisi warga dari Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Magelang, Jumat (6/11/2020). Foto: Eko Susanto/detikcom

Selain itu kapasitas tempat pengungsian juga hanya diisi 50 persen. Untuk di Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, ada 43 bilik yang sudah terpasang dan masih akan ditambah. Lokasi pengungsian lainnya juga akan memanfaatkan gedung sekolah.

"Karena musim pandemi, maka protokol kesehatan dilaksanakan di sana cuci tangan, kemudian jaga jarak. Untuk jaga jarak ini, kita buat bilik diisi per keluarga," kata Edy.

Terpisah, Kepala Desa Banyurojo, Iksan Maksum, mengatakan Desa Banyurojo memang sudah dari awal disiapkan sebagai sister village atau desa bersaudara. Desa Banyurojo pun menjadi tujuan warga Desa Paten untuk mengungsi selama status Gunung Merapi belum diturunkan.

"Di sini sister village-nya dengan Dusun Babadan I, Desa Paten, Kecamatan Dukun. Kita sudah sambang ke sana termasuk kemarin siang kita sambang ke sana sebenarnya untuk koordinasi persiapan pelatihan sister village untuk hari Sabtu, tapi ternyata harus hari ini informasinya nanti jam 09.00 WIB sudah mulai ada pengungsi yang datang ke sini. Yang awal, lansia, hamil, ibu menyusui, balita, disabilitas," kata Iksan.

Sementara itu, update data dariBPBD KabupatenMagelang, sebanyak 607 orang pengungsi kelompok rentan dari Desa Paten, Krinjing dan Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun.

Rinciannya, Desa Paten sebanyak 356 orang meliputi Babadan I ada 223 orang dan Babadan II ada 133 orang. Mereka mengungsi di wilayah Desa Banyurojo dan Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan.

Kemudian, pengungsi dari Desa Krinjing sebanyak 124 orang terdiri Dusun Trono ada 25 orang, Pugeran 47 orang dan Trayem 53 orang. Untuk warga Desa Krinjing ini mengungsi di Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan.

Sedangkan untuk pengungsi dari Desa Ngargomulyo sebanyak 127 orang yang berasal Dusun Batur Ngisor ada 18 orang, Gemer ada 50, Ngandong 31 orang dan Karanganyar ada 28 orang. Mereka ini mengungsi di Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan.

"Total pengungsi dari sembilan dusun di tiga desa ada 607 orang. Mereka mengungsi di wilayah Kecamatan Mertoyudan dan Muntilan," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto, kepada wartawan.

(ams/rih)