Pilwalkot Solo

Curhat Tim Bajo Rival Gibran 'Dijegal' Isu Tunggakan PDAM

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Selasa, 03 Nov 2020 19:59 WIB
Paslon independen Solo Bagyo Wahyono-FX Supardjo (Bajo). Foto diambil di posko pemenangan Bajo, Laweyan, Solo, Selasa (3/11/2020).
Paslon independen Pilkada Solo, Bagyo Wahyono-FX Supardjo (Bajo), Selasa (3/11/2020). Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Solo -

Tim pasangan calon independen, Bagyo Wahyono-FX Supardjo (Bajo), merasa terus 'dijegal' selama proses tahapan Pilkada Solo. Yang terakhir ialah masalah tunggakan tagihan air PDAM Bagyo Wahyono yang mencapai Rp 25 juta.

Ketua ormas pengusung Bajo, Tikus Pithi Hanata Baris, Tuntas Subagyo, mengaku heran masalah tunggakan air PDAM Bagyo bisa muncul secara tiba-tiba. Dia mengaitkan kondisi ini dengan beberapa tudingan yang pernah menyerang mereka.

"Kenapa kok bisa muncul di media? Saya tidak menjustifikasi. Dulu saat mencalonkan dianggap boneka, dibayar orang. Saat pergerakan kita masif di lapangan, muncul seperti itu (isu tunggakan). Padahal kalau dibicarakan baik-baik akan selesai," kata Tuntas dalam jumpa pers di posko pemenangan Bajo, Laweyan, Solo, Selasa (3/11/2020).

Namun menurutnya, hal tersebut membuktikan jika Bagyo betul-betul wong cilik. Masyarakat Solo pun diminta tidak melihat hanya dari sisi negatif.

"Kami minta masyarakat mengambil sisi positifnya, yaitu karena Pak Bagyo ini memang wong cilik," ujarnya.

Sementara itu, ketua tim pemenangan Bajo, Sigit Prawoso, juga menilai tagihan air PDAM Bagyo tersebut seharusnya disampaikan jauh hari. Sebab sudah lama saluran air PDAM di tempat Bagyo diputus.

"Tagihan kan harusnya diberi tahu jauh hari, kenapa baru saat pilwalkot? Tapi okelah, karena Pak Bagyo ini masyarakat yang baik, akan diselesaikan dalam waktu cepat," ujar Sigit.

Seperti diberitakan, Bagyo beralasan memiliki problem ekonomi sehingga tidak bisa membayar tagihan air dari Perumda Toya Wening. Dia terpaksa menunggak karena sejumlah pegawainya membutuhkan uang untuk kebutuhan mendesak.

"Namanya wong cilik, memang kesulitan ekonomi. Karena saya dahulukan untuk yang urgen. Pegawai saya butuh untuk makan keluarganya, saya dahulukan, untuk sekolah anak pegawai saya, tiba-tiba anaknya masuk rumah sakit, apa saya tega?" kata Bagyo, saat dijumpai wartawan di kawasan Laweyan, Jumat (30/10).

(rih/ams)