Dilema Penyelamatan Makam Orang Kalang yang Dirusak Pemburu Bekal Kubur

Febrian Chandra - detikNews
Sabtu, 31 Okt 2020 16:30 WIB
Penemuan 23 titik Kuburan Batu Manusia Kalang
Kubur batu orang Kalang di Blora. (Foto: Febrian Chandra/detikcom)
Mumuk menjelaskan, berbicara merawat tinggalan benda cagar budaya harus diimbangi dengan ketersedian anggaran.

"Anggaran itu nanti bisa dibangun pagar pengaman, papan peringatan, merawat dan menjaga situs budaya. Selama ini baru ada beberapa situs yang diberi pengaman. Bahkan ada relawan yang membuatkannya," jelasnya.

Selama ini upaya untuk melestarikan sebatas menjaga, menghimbau dan mensosialisasikan agar situs-situs budaya seperti kubur batu manusia kalang tidak dirusak.

Sebelumnya, ada temuan baru di situs cagar budaya kubur batu orang kalang, Desa Bleboh, Kecamatan Jiken, Blora. Total ada 23 titik kubur batu yang terdata di situs itu.

"Sampai hari ini total ada 23 titik kubur batu kuno manusia kalang. Lokasinya tidak terkumpul di satu titik. Namun menyebar dibeberapa titik, tapi masih di satu wilayah desa Bleboh," kata Slamet Pamuji, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Blora saat dihubungi detikcom, Senin (26/10).

Benda-benda bekal kubur orang Kalang yang diamankan petugasBenda-benda bekal kubur orang Kalang yang diamankan petugas (Foto: Febrian Chandra/detikcom)

Mumuk menjelaskan pada tahun 2017 baru terdapat 10 titik kubur batu orang kalang di desa itu. Sebanyak 10 titik itu sudah terdaftar sebagai situs cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

"Hingga hari ini, terus dilaporkan penambahan temuan baru kubur batu manusia kalang di desa tersebut," dia menjelaskan.

Mumuk menguraikan temuan kubur batu itu, ditemukan oleh komunitas pelestari cagar budaya. Bahkan oleh mereka, beberapa titik diberi pagar pengaman agar kubur batu tidak lagi dirusak seperti di wilayah hutan Nglawungan, Kecamatan Tunjungan, beberapa waktu lalu.

Halaman

(mbr/mbr)