7 Klaster Corona di Boyolali Selesai Tracing, di Antaranya Tilik

Ragil Ajiyanto - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 18:26 WIB
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, Ratri S Survivalina
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, Ratri S Survivalina (Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom)
Boyolali -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali menyampaikan tujuh dari total 17 klaster virus Corona (COVID-19) di wilayahnya telah sembuh. Salah satu di antaranya klaster tilik atau menjenguk orang sakit yang juga selesai tracing.

"Untuk perkembangan klaster dari 17 klaster yang terindentifikasi di bulan Oktober ini, sudah ada 7 klaster yang dinyatakan selesai atau sembuh," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, Ratri S Survivalina, saat ditemui sebelum mengikuti evaluasi program jogo tonggo di Gedung Smart City Kompleks Kantor Terpadu Pemkab Boyolali, Senin (26/10/2020).

"Di antaranya klaster tilik dari Desa Pulutan, Kecamatan Nogosari dan klinik Milla Husada, Banyudono. Lainnya yakni dari klaster keluarga. Untuk kasus-kasus yang lain klasternya masih aktif, semuanya adalah klaster keluarga," sambungnya.

Lina, sapaan karibnya, menerangkan sebelumnya ada delapan kasus positif Corona dari klaster tilik. Kala itu delapan orang tersebut terpapar Corona usai menjenguk tetangganya yang ternyata positif COVID-19.

Sementara itu, Lina menyebut kasus positif Corona di Boyolali masih bertambah. Dari 20-25 Oktober 2020 tercatat ada 66 kasus baru di wilayahnya.

Jumlah tersebut tersebar di 17 kecamatan dengan penambahan kasus positif paling banyak di Kecamatan Boyolali sejumlah 13 kasus. Kemudian Kecamatan Sambi 11 kasus dan Kecamatan Ngemplak 7 kasus baru.

Kemudian jumlah terkonfirmasi positif Corona di Boyolali sampai hari ini ada 1.086 kasus. Dari jumlah tersebut yang sudah dinyatakan sembuh sampai saat ini sebanyak 886 kasus.

"Kasus konfirmasi positif COVID-19 sampai hari ini ada 1.086 kasus. Dari jumlah tersebut yang sudah dinyatakan sembuh sampai saat ini sebanyak 886 kasus, dan yang meninggal 42 kasus. Angka kesembuhan 81,58 persen, itu artinya kondisi Boyolali semakin membaik," ujarnya.

Pihaknya pun mengimbau agar masyarakat disiplin menerapkan protokol kesehatan saat libur panjang dan cuti bersama pekan ini. Pihaknya khawatir libur panjang berpotensi menjadi salah satu sumber penularan virus Corona (COVID-19).

"Jelang libur panjang cuti bersama yang mulai tanggal 28 Oktober sampai 1 November, kami mengimbau kepada masyarakat Boyolali untuk tetap melaksanakan aktivitas dengan memperhatikan protokol kesehatan. Misalnya akan bepergian itu juga harus memenuhi protokol kesehatan yaitu melakukan pemeriksaan rapid test atau swab tenggorokan, sebelum dan sesudah bepergian," pesan Lina.

Dia juga mengingatkan masyarakat yang olah raga juga diminta untuk menjaga jarak dan menggunakan masker.

"Ini penting sekali karena nanti, libur panjang ini memang berpotensi untuk menjadi salah satu sumber penularan COVID-19. Sehingga tanpa dukungan dari seluruh anggota masyarakat, kami tidak bisa berupaya menurunkan kasus (COVID-19) di Boyolali," terangnya.

Tonton video 'Alat Deteksi Corona UGM akan Diujikan ke 10 RS di Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]



(ams/rih)