6,5 Juta Batang Rokok Ilegal di Kudus Senilai Rp 5 M Dimusnahkan

Dian Utoro Aji - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 14:47 WIB
Pemusnahan 6,5 juta batang rokok ilegal di kantor Bea Cukai Kudus. Rokok ilegal ini bernilai sekitar Rp 5 miliar. Pemusnahan dilakukan pada Kamis (22/10/2020).
Pemusnahan 6,5 juta batang rokok ilegal di kantor Bea Cukai Kudus. (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Bea Cukai Kudus memusnahkan rokok ilegal seberat 11 ton atau sekitar 6,5 juta batang. Diperkirakan nilai rokok ilegal tersebut mencapai Rp 5,087 miliar.

"Kita hari ini memusnahkan 6,5 juta barang rokok ilegal hasil penindakan Bea Cukai Kudus periode bulan Februari hingga Juli 2020," kata Kepala KPPBC Tipe Madya Kudus Gatot Sugeng Wibowo kepada wartawan di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KHIT) Jalan Lingkar Timur nomor 216 Megawon, Kecamatan Jati, Kudus, Kamis (22/10/2020).

Gatot mengatakan ada beberapa jumlah jenis barang yang dimusnahkan. Seperti alat pemanas 15 buah, pita cukai yang diduga palsu sebanyak 4.579 keping, sigaret kretek mesin (SKM) sebanyak 6.521.294 batang, dan sigaret kretek tangan (SKT) sebanyak 11.880 batang.

"Dengan perkiraan berat kurang lebih 11 ton," ujar dia.

Gatot memperkirakan nilai barang dari barang yang dimusnahkan mencapai Rp 5,087 miliar. Sementara itu, untuk potensi kerugian negara sebanyak Rp 3,080 miliar.

"Itu dihitung berdasarkan nilai cukai, PPN hasil tembakau dan pajak rokok yang seharusnya dibayar," ujar dia.

Gatot menyebut modus yang ditemukan Bea Cukai Kudus yakni rokok ilegal itu tidak dilengkapi dengan pita cukai. Mayoritas penindakan rokok ilegal itu berasal dari wilayah Jepara dan merupakan produksi di rumah warga.

"Kita temukan banyak yang polosan, tidak dilengkapi dengan cukai. Ini sebagian besar berasal dari wilayah Jepara. Sebagian besar dari sana berasal dari pengangkutan dan produksi di rumah-rumah," terang Gatot.

Terpisah, Direktur Jendral Bea Cukai Heru Pambudi memastikan peredaran rokok ilegal akan ditindak. Dia berharap agar ke depan pengusaha rokok ilegal bisa menjadi pengusaha yang legal.

"Kami yakinkan kami akan tegas bahwa sampai kapanpun kegiatan ilegal akan kami tuntut. Dengan operasi gempur kami tindak peredaran rokok ilegal. Dan kami berharap agar pengusaha rokok ilegal nanti bisa masuk di kelas penguasa rokok legal," tambah Heru saat siaran virtual dengan Bea Cukai Kudus siang ini.


Sementara itu, untuk menekan peredaran rokok ilegal Pemkab Kudus dan Bea Cukai Kudus meresmikan Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT). Kawasan Industri ini dibangun untuk pemusatan kegiatan industri hasil tembakau yang dilengkapi dengan sarana, prasarana, serta fasilitas penunjang industri hasil tembakau.

Sasarannya untuk menampung para pengusaha pabrik dengan skala industri kecil dan menengah.

"Pertama bagi mereka bermaksud bisnis dengan baik legal transparan pemerintah akan memberikan fasilitas, memberikan kemudahan. Di dalam KIHT kawasan khusus prioritaskan kemudahan di bidang perizinan, misalnya syarat minimal luasan pabrik yang sebelumnya diatur PMK-200/PMK.04/2008 yakni 200 meter persegi di sini tidak perlu. Ini sudah sangat memenuhi syarat," papar Heru.

"Kedua administrasinya sudah dipermudah, pembayarannya juga kita dipermudah. Ini tentunya memberikan kemudahan, orang yang baik kita dukung, Pemda juga mendukung, dukungan edukasi pembinaan juga disediakan," sambungnya.

Harapannya produksi rokok ilegal bisa ditekan. Kemudian pengusaha rokok dengan industri kecil, menengah bisa mendapatkan akses perizinan dengan mudah.

"Pada akhirnya, ilegal masuk menjadi legal. Maka masyarakat memanfaatkan secara langsung. Pemerintah menerima pemasukan penerimaan rokok. Kami berharap di luar kelas (pengusaha rokok ilegal) masuk ke dalam kelas. Mari kita bimbing, bimbing terus menjadi murid yang luar biasa," ujar dia.

"Tidak hanya itu,kita dorong agar produk rokok ke luar negeri, kami siap dalam rangka meningkatkan ekspor nasional kita," ucap Heru.

(ams/sip)