BPPTKG: Intensitas Kegempaan Gunung Merapi Meningkat

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Rabu, 21 Okt 2020 14:45 WIB
Puncak Gunung Merapi terlihat dari Sungai Gendol, Bronggang, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (3/5/2020). Menurut laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta pada tanggal 24 - 30 April 2020 aktivitas Gunung Merapi masih cukup tinggi tercatat 10 kali gempa hembusan, 47 kali gempa fase banyak, 16 kali gempa guguran dan 8 kali gempa tektonik dengan potensi bahaya berupa awan panas dari runtuhnya kubah lava jika terjadi letusan eksplosif. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/foc.
Puncak Gunung Merapi terlihat dari Sungai Gendol, Bronggang, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (3/5/2020). Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
Yogyakarta -

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat ada puluhan gempa guguran terjadi di Gunung Merapi pada Selasa, 20 Oktober 2020. Jumlah gempa guguran pada hari tersebut lebih banyak dibanding sehari sebelumnya.

"Pada 20 Oktober terjadi 28 gempa guguran, 28 low req, 18 gempa vulkanik dangkal dan 37 gempa hembusan," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida dalam keterangannya, Rabu (21/10/2020).

BPPTKG mencatat pada 19 Oktober terjadi 10 kali gempa guguran, 6 gempa low freq, 6 gempa vulkanik dangkal dan 31 gempa hembusan.

Lebih lanjut, BPPTKG juga mengungkap intensitas gempa di Gunung Merapi terpantau lebih tinggi. Hal itu tercatat dalam laporan periode tanggal 9-15 Oktober 2020. Kegempaan Merapi pada periode tersebut tercatat sebanyak 56 kali gempa Hembusan (DG), 41 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 319 kali gempa Fase Banyak (MP), 5 kali gempa Low Frekuensi (LF), 67 kali gempa Guguran (RF), dan 10 kali gempa Tektonik (TT).

"Intensitas kegempaan (Gunung Merapi) lebih tinggi dibandingkan minggu lalu (periode sebelumnya)," ujar Hanik.

Sementara volume kubah lava berdasarkan pengukuran menggunakan foto udara dengan drone pada tanggal 26 Juli 2020 sebesar 200.000 m3. Deformasi Merapi sendiri menunjukkan masih ada laju pemendekan.

"Deformasi Merapi yang dipantau dengan menggunakan EDM pada minggu ini menunjukkan adanya laju pemendekan jarak sebesar 1 cm/hari," ungkapnya.

Kendati demikian, status Merapi masih bertahan pada level dua atau waspada.

"Kubah lava saat ini dalam kondisi stabil. Aktivitas vulkanik Merapi masih cukup tinggi dan ditetapkan dalam tingkat aktivitas waspada. Potensi bahaya saat ini berupa awan panas dari runtuhnya kubah lava dan lontaran material vulkanik dari letusan eksplosif," jelasnya.

Hanik juga mengingatkan kepada masyarakat terutama pada masyarakat agar waspada potensi lahar yang sewaktu-waktu bisa terjadi saat puncak Merapi diguyur hujan.

"Intensitas curah hujan tertinggi pada periode tersebut sebesar 78 mm/jam selama 30 menit di Pos Kaliurang pada tanggal 15 Oktober 2020. Tidak dilaporkan terjadi lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Merapi," pungkasnya.

(rih/sip)