Mengenal Porkas yang Pernah Dikelola Mendiang Robby Sumampow

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Senin, 12 Okt 2020 19:15 WIB
Robby Sumampow
Robby Sumampow (Foto: Istimewa)
Sleman -

Konglomerat asal Solo, Robby Sumampow, meninggal dunia di Singapura kemarin malam. Robby Sumampow diketahui merupakan orang yang mengelola Porkas (Pekan Olahraga dan Ketangkasan) di masa Orde Baru. Lantas apa itu Porkas?

Sosiolog kriminalitas Universitas Gadjah Mada (UGM) Suprapto membeberkan sejarah Porkas tak lepas dari sejarah adanya Nasional Lotre (Nalo) yang bertujuan untuk mendapatkan pemasukan negara selain dari pajak. Kemudian muncul ide untuk mengadakan Porkas.

"Bersamaan dengan penyebaran undian hadiah SDSB (sumbangan dana sosial berhadiah), pemerintah mengeluarkan jenis judi legal lain yakni Porkas. Undian berhadiah ini berada di ranah olahraga," kata Suprapto saat dihubungi wartawan, Senin (12/10/2020).

Porkas, kala itu pada dasarnya merupakan undian berhadiah. Sesuai namanya, Porkas berada di ranah olahraga terutama sepak bola.

"Sepak bola menjadi lahan basah untuk praktik undian berhadiah ini. Bagaimanapun ini tetap berbau unsur spekulasi karena ada unsur itu masuk ke judi," jelas dosen Fisipol UGM itu.

Suprapto menjelaskan sebelum dilegalkan, kala itu Presiden Soeharto mengirim Menteri Sosial Mintaredja untuk melakukan studi banding ke Inggris. Tidak main-main, pemerintah mempelajari sistem undian berhadiah ini selama dua tahun.

"Diawali penugasan Soeharto kepada Mensos Mintaredja ke Inggris untuk mempelajari bagaimana undian berhadiah ini dilakukan. Setelah dua tahun dikaji kemudian diresmikan tahun 1985," urainya.

Pemerintah pun kekeh menyatakan Porkas bukan judi. Sebab, judi selalu dikaitkan dengan angka, sedangkan Porkas tidak. Aturan tentang Porkas mengacu pada UU No. 2 Tahun 1954 tentang Undian. Kemudian diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri Sosial No. BSS-10-12/85 bertanggal 10 Desember 1985.

"Pemerintah tetap mengklaim Porkas berbeda dengan undian hadiah berbau judi sebelumnya. Dalam Porkas tidak ada tebakan angka, melainkan penebakan menang-seri-kalah. Peredarannya pun hanya sampai tingkat kabupaten, dan batasan usianya 17 tahun," bebernya.

Para pembeli kupon berhadiah ini akan bertaruh untuk 14 klub sepak bola yang berlaga di Indonesia kala itu. Setelah 14 klub melakukan pertandingan dan telah berjalan selama seminggu hadiah akan diundi.

Suprapto menyebut pembagian hadiahnya yakni 50-30-20, berurutan penyelenggara tebakan-pemerintah-penebak.

"Ini kenapa terus berjalan, karena ini dianggap spekulasi murni tidak ada perhitungan yang bersifat rasional, bukan analisis. Dan nanti mereka hanya menentukan menang-seri-kalah," urainya.

Sejak awal diresmikan, Porkas mendapat banyak pertentangan dari masyarakat. Walau tidak sedikit juga yang mendukung program judi legal pemerintah tersebut.

Namun, setelah kekuasaan Orde Baru mulai hilang lambat laun Porkas juga ikut hilang.

"Kalau secara resmi begitu Orde Baru tidak lagi ada, itu (Porkas) sudah mulai larut. Tapi saya tidak yakin bisa hilang. Bisa jadi saat ini jadi Porkas terselubung," katanya.

Lebih lanjut, Porkas ini berbentuk kupon yang berisi rincian tim dan pilihan menang-seri-kalah.

"Ya semacam karcis ada isian menang seri kalah. Kemudian tetap memilih untuk pertandingan yang mana dan ada harganya," pungkasnya.

(ams/rih)