Kesaksian Mahasiswa UGM Dipukuli Aparat Saat Interogasi, Polda DIY Bantah

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 10 Okt 2020 15:31 WIB
Massa demo tolak Omnibus Law bergerak dari Bundara UGM ke DPRD DIY, Kamis (8/10/2020).
Suasana saat massa demo tolak UU Ombudsman Cipta Kerja berkumpul di Bundaran UGM sebelum longmarch ke DPRD DIY, Kamis (8/10). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikcom
Yogyakarta - Seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menjadi peserta demo tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja mengaku dipukuli oleh oknum aparat. Mahasiswa bernama Akhfa Rahman Nabiel (20) ini juga bercerita dipaksa mengaku sebagai provokator dalam demo yang berakhir ricuh di Malioboro, Kamis (8/10).

"Kepala dan muka saya beberapa kali dipukul, sampai gagang kacamata saya patah," ujar Nabiel dalam keterangan tertulis yang dikirim humas UGM kepada wartawan, Sabtu (10/10/2020).

Masih dalam keterangan tertulis yang sama dan juga dilansir di website resmi ugm.ac.id hari ini dengan judul Pimpinan UGM Jenguk Mahasiswa Korban Demo Ricuh Malioboro, disampaikan bahwa mahasiswa Fakultas Filsafat itu dirawat di RS Bhayangkara, Kalasan, Kabupaten Sleman. Direktur Kemahasiswaan UGM Dr Suharyadi sempat menjenguk Nabiel pada Jumat (9/10).

Saat itu Nabiel masih dipasangi infus dan selang oksigen. Nabiel mengaku masih mengalami sesak napas setelah kena tendangan dari oknum aparat.

Wajah Nabiel masih tampak lebam. Nabiel mengaku terkena pukulan para aparat saat diinterogasi di salah satu ruang di Gedung DPRD DIY.

Nabiel bercerita, dia datang terlambat saat mengikuti demo penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja, di depan gedung DPRD DIY pada Kamis (8/10) lalu. Ia menyusul rekan peserta demo lainnya yang sudah berjalan kaki dari Bunderan UGM menuju Malioboro.

Menggunakan sepeda motornya, Nabiel membawa dua kardus air untuk dibagikan kepada rekan peserta demo. Setelah memarkir kendaraan di area parkir Abu Bakar Ali (ABA), Nabiel bergabung dengan iringan kelompok mahasiswa UGM lainnya sambil membagikan air mineral yang dia bawa.

Bersama iringan mahasiswa dan peserta demo lainnya, Nabiel mengaku saat itu dia berada di posisi paling depan. Tidak lama kemudian, ketika berada di depan pintu masuk kompleks DPRD DY, kata Nabiel, demo kembali ricuh setelah beberapa orang aparat terprovokasi oleh ulah demonstran yang menurut Nabiel masih remaja.

"Empat personel diganggu massa, saya yakin anak SMA atau SMK, satu personel terprovokasi. Kebetulan posisi saya pas di belakang personel itu, mulai bentrok dan ricuh, saya ikut mundur bersama polisi, saya masuk ke aula DPRD," katanya.

Saat berlindung di aula DPRD DIY, kata Nabiel, tidak lama kemudian dia didatangi salah seorang aparat yang mulai menginterogasinya. Dari situ ia kemudian diciduk bersama dengan peserta demo lainnya.

Ponsel Nabiel saat itu ikut disita. Nabiel kemudian dibawa ke lantai atas di gedung DPRD DIY untuk diinterogasi lebih lanjut. Dalam proses interogasi itu, kata Nabiel, dia dipukuli bertubi-tubi.

Nabiel bercerita, ia diminta mengaku sebagai provokator dalam demo tersebut karena melihat isi pesan percakapan soal demo dari ponselnya. Padahal menurut Nabiel isi percakapan tersebut hanya candaan dengan teman mahasiswi UGM lainnya terkait rencana dirinya akan liputan ikut demo ke Malioboro.

"Mereka anggap chat saya dengan mahasiswi ini untuk provokasi demo Gedung DPRD jadi ricuh,"katanya.

Karena tidak mau mengakui jadi provokator demo, lanjut Nabiel, dia terus mendapat pukulan. Hingga menjelang senja, kata Nabiel, ia disuruh berjalan jongkok dari lantai tiga gedung DPRD menuju mobil bak terbuka untuk dibawa ke kantor polisi. Seingat Nabiel, dia dibawa ke kantor Polresta Yogyakarta.

Nabiel berkata, saat itu dia mulai lemas dan merasa fisiknya tidak mampu berjalan lagi. Sesampai di kantor polisi, ia ingat sempat dipapah oleh aparat dan mendapat bantuan oksigen. Selanjutnya, kata Nabiel, dia dibawa ke rumah sakit karena kondisi fisiknya terus melemah.

"Pak Haryadi (Direktur Kemahasiswaan UGM) minta saya tetap semangat tetap pikir positif. Saya ingin masalah ini cepat selesai dan bisa kuliah kembali," ujarnya.

Saat dimintai konfirmasi, Kabid Humas Polda DIY Kombes Yuliyanto membenarkan ada pendemo yang dirawat di RS Bhayangkara. Namun dia membantah ada pemukulan terhadap pendemo saat diinterogasi di DPRD DIY.

"Ada pendemo yang dirawat di Bhayangkara, semua biaya Polri yang tanggung. Pada saat interogasi di DPRD tidak ada yang dipukuli," ujar Yulianto kepada detikcom melalui pesan singkat, sore ini.

"Yang diinterogasi di DPRD semua dibawa ke Polresta (Yogyakarta), dan saat ini pendemo yang amankan oleh Polresta sudah dikembalikan ke keluarganya," lanjutnya.

Video 'Detik-detik Resto Legian Malioboro Diduga Dilempar Molotov:

[Gambas:Video 20detik]



(sip/sip)