Pilu ABG Sragen 11 Tahun Terpisah dari Keluarga, Ngamen-Dipukuli di Jalanan

Andika Tarmy - detikNews
Rabu, 07 Okt 2020 10:46 WIB
Ervan Wahyu Anjarworo (tengah) bertemu dengan keluarganya di Sragen, Selasa (6/10/2020).
Ervan Wahyu Anjarworo bersama keluarganya di Sragen. (Foto: Andika Tarmy/detikcom)
Sragen -

Seorang remaja bernama, Ervan Wahyu Anjasworo (16) asal Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, akhirnya kembali bertemu dengan keluarganya usai dinyatakan hilang selama 11 tahun. Hidup sendiri di jalanan ibu kota sejak usia lima tahun, Ervan kerap mendapatkan perlakuan tak manusiawi.

"Kenangan paling sedih ya waktu disuruh mengamen itu. Kalau tidak melebihi target suka dipukul," ujar Ervan ditemui detikcom di rumah kakeknya di Dukuh Panurejo, Desa Kedungupit, Kecamatan Sragen Kota, Kabupaten Sragen, Selasa (6/10/2020).

Ervan melanjutkan, para pengamen itulah yang menyebabkan dirinya harus berpisah dengan keluarganya. Ervan mengaku bertemu dengan pengamen itu saat dirinya hendak pulang ke kontrakan ayahnya di daerah Kemayoran.

"Kan saya selesai ngembaliin game watch yang saya sewa dari tetangga. Saat perjalanan pulang, ketemu empat pengamen. Mereka menghampiri saya terus diajak ngamen," paparnya.

Ervan kecil tak berpikir panjang dan hanya menurut ajakan keempat pengamen yang usianya jauh lebih tua darinya itu. Sejak saat itu hidup Ervan berubah.

"Disuruh ngamen. Mereka kasih target pendapatan minimal Rp 60 ribu sehari. Kalau tidak melebih itu, saya dipukul, dicambik. Tangan saya ini juga pernah disilet," kenang Ervan.

Melarikan diri dari kawanan pengamen, lanjutnya, juga bukan pilihan mudah bagi anak seumur dia. Pasalnya menurut Ervan, para pengamen ini memiliki jaringan yang luas sehingga dirinya akan mudah tertangkap lagi.

"Pernah berusaha kabur. Tapi ketangkep lagi, abis itu digebukin. Benar-benar nggak manusiawi lah," ujarnya.

Ervan mengaku ingat, dirinya sering menangis karena ingin bertemu keluarganya. Lalu para pengamen tersebut sering menjanjikan untuk mengantarnya pulang.

"Nangis pasti. Tapi namanya anak kecil, selalu dijanjiin pulang ya saya iya-iyain aja," cetus Ervan.

Berhasil kembali pulang ke pelukan keluarga, Ervan mengaku sangat bersyukur. Dirinya tidak menyangka perjuangan selama ini membuahkan hasil.

"Nggak nyangka aja, ternyata perjuangan saya nggak sia-sia. Jadi nggak memakan waktu yang lama, hanya butuh kesabaran saja," ujarnya.

Ervan melanjutkan, segala kejadian yang pernah dilalui, dianggapnya sebagai pengalaman. Ervan kini fokus untuk melanjutkan hidupnya bersama keluarga tercinta.

"Rencana mau lanjutin sekolah sambil mengasah lagi kemampuan yang Ervan punyai waktu pelatihan kerja," pungkasnya.

(sip/mbr)