Hilang di Usia 5 Tahun, ABG Ini Akhirnya Bisa Pulang 11 Tahun Kemudian

Andika Tarmy - detikNews
Rabu, 07 Okt 2020 08:27 WIB
Ervan Wahyu Anjarworo (tengah) bertemu dengan keluarganya di Sragen, Selasa (6/10/2020).
Ervan Wahyu Anjarworo (tengah) bertemu dengan keluarganya di Sragen, Selasa (6/10/2020). (Foto: Andika Tarmy/detikcom)
Sragen -

Ervan Wahyu Anjasworo (16) remaja asal Sragen, Jawa Tengah, berhasil kembali bertemu dengan keluarganya usai dinyatakan hilang selama 11 tahun. Ervan hilang saat diajak ayahnya liburan di Jakarta tahun 2009 lalu.

Ervan dan ayahnya, Suparno (37), warga Dusun Gabus Wetan, Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal, Sragen, dipertemukan atas kerja sama Dinas Sosial Kota Bogor dan Dinas Sosial Kabupaten Sragen. Untuk pertama kalinya dalam 11 tahun, Ervan kembali ke kampung halamannya hari ini, Selasa (6/10/2020).

Ayah Ervan, memang bekerja di Jakarta sebagai sopir metromini. Tahun 2009 lalu, Suparno mengajak Ervan yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak untuk berlibur di Jakarta.

"Biasanya Ervan saya titipkan di rumah kakeknya. Karena sedang liburan, saya ajak ke Jakarta. Waktu itu kontrakan saya di daerah Kemayoran," ujar Suparno, ditemui detikcom di rumah orang tuanya di Dusun Panurejo, Desa Kedungupit, Kecamatan Sragen Kota.

Hampir tiga pekan di Jakarta, lanjutnya, Ervan minta untuk dipulangkan ke Sragen. Saat itu Suparno menyanggupi akan memulangkan Ervan dua hari kemudian.

"Saya bilang ke Ervan menyanggupi hari Minggu pulang ke Sragen. Tapi Jumat sekitar jam 3 sore, (Ervan) sudah tidak ada," kata Suparno.

Suparno mengatakan, saat itu Ervan berpamitan untuk mengembalikan game watch yang disewanya dari tetangga. Namun hingga malam hari, bocah yang saat itu berumur 5 tahun tersebut tak kunjung pulang.

"Saya masih ingat waktu itu makanan dan minumannya saja belum sempat dihabiskan. Saya cari ke sana ke mari, akhirnya tengah malam saya lapor ke polisi," paparnya.

Suparno bahkan sempat tidak bekerja selama dua bulan agar lebih fokus mencari anaknya. Hari-hari dia habiskan menyusuri gang demi gang di seantero Jakarta, namun anaknya tidak bisa diketemukan.

"Karena waktu itu marak penculikan, pikiran saya anak saya diculik orang. Tapi saya yakin anak saya masih hidup, makanya saya tetap bekerja di Jakarta agar bisa terus mencari anak saya," terangnya.

Sementara ditanya seputar momen hilangnya, Ervan mengaku masih ingat betul apa yang menimpanya. Ervan yang waktu itu masih polos, dibujuk oleh empat orang pengamen untuk mengikuti mereka.

"Saya selesai ngembaliin game watch, baru mau pulang. Di jalan ada empat pengamen minta saya ikut, katanya nanti mau diantar pulang," kata Ervan yang kini sudah tidak bisa berbicara bahasa Jawa itu.

Karena masih bocah, Ervan menuruti rayuan keempat pengamen tersebut. Bersama keempat pengamen tersebut, Ervan pun hidup di jalanan.

"Saya disuruh mengamen. Hasilnya dibagi dua, separuh untuk Ervan makan, separuh disetor ke mereka. Kalau tidurnya sembarangan, kadang di kolong kadang di trotoar," terangnya.

Hidup di jalanan, Ervan mengaku kerap mendapatkan kekerasan dari para pengamen jika setorannya tidak memenuhi target. Ervan menjalani hidup seperti itu selama 2,5 tahun.

"Sering dipukul kalau tidak dapat uang. Lari juga percuma, nanti ketangkep lagi malah dipukuli," paparnya.

Para pengamen tersebut ternyata menepati janji untuk memulangkan Ervan. Dengan menumpang kereta api, Ervan sempat diantar sampai Kota Solo. Namun karena tak ingat alamat rumahnya, Ervan saat itu terpaksa kembali ke Jakarta.

"Ada sebulan muter-muter di Solo sambil ngamen tapi saya bener-bener nggak ingat. Akhirnya balik lagi ke Jakarta tapi berhenti di Parung Bogor," lanjutnya.

Di Parung, jalan hidup Ervan berubah. Dirinya terpisah dari rombongan pengamen saat lari menghindari petugas Satpol PP. Ervan beristirahat di masjid daerah Kemang Bogor, dan bertemu dengan orang baik yang mau mengangkatnya sebagai anak.

"Di masjid ketemu pak RT, saya ditanya-tanya terus diangkat anak. Namun hanya empat bulan karena pak RT meninggal, saya lalu diangkat anak oleh orang lain bernama Mbah Eli," kata dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2