Round-Up

Padamnya Kobaran Api Abadi Mrapen yang Mengejutkan

Febrian Chandra - detikNews
Sabtu, 03 Okt 2020 08:36 WIB
Penampakan api abadi Mrapen padam, Jumat (2/10/2020). Pertama kalinya dalam sejarah api abadi Mrapen padam total, sebelumnya pada 1996 api sempat meredup namun tak sampai padam.
Penampakan Api Abadi Mrapen yang padam total, di Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (2/10/2020). (Foto: Febrian Chandra/detikcom)
Grobogan -

Sudah sepekan Api Abadi Mrapen padam. Padamnya kobaran api abadi yang berada di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah ini mengejutkan karena baru pertama kali dalam sejarah.

"Sudah padam sepekan ini, dan belum menunjukkan tanda-tanda nyala api," kata Kepala Desa Manggarmas, Achmad Mufid, saat dihubungi detikcom, Jumat (2/10/2020).

Mufid menjelaskan, Api Abadi Mrapen padam secara bertahap. Awalnya, api terlihat meredup diperkirakan karena kandungan gas yang keluar berkurang. Baru setelah itu, Api Adabi Mrapen padam total pada tanggal 25 September 2020.

Sementara itu, Kasi Energi Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Kendeng Selatan, Sinung Sugeng Arianto, mengatakan pihaknya saat ini masih turun di lapangan melihat kondisi Api Abadi Mrapen yang padam.

Menurutnya, dari pengecekan awal tidak tercium bau gas yang keluar dari titik Api Abadi Mrapen. Artinya, pasokan gas yang keluar dari alam saat ini terhenti.

"Kemarin, baru kita lakukan pengecekan awal. Adapun dari pengecekan awal itu memang apinya padam karena tidak ada suplai gasnya. Laporan yang kami terima, api padam sejak tanggal 25 September lalu," kata Sinung saat dihubungi.

Sinung menyebutkan pihaknya akan melakukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui lebih pasti apa yang jadi penyebab padamnya Api Abadi Mrapen.

Sinung memaparkan, pada 12 September 2020 lalu, sempat ada semburan air bercampur gas dari kegiatan pengeboran sumur yang lokasinya tidak jauh dari Api Abadi Mrapen. Semburan air tersebut mencapai setinggi 50 meter. Terdengar pula suara gemuruh dari dalam tanah dan tercium bau gas hidrokarbon.

Warga dan pihak desa kemudian menutup lokasi semburan air tersebut. Namun air dan gas masih merembes keluar dari lubang sumur bor. Jarak lokasi pengeboran pencairan sumber air dengan lokasi Api Apadi Mrapen sekitar 200 meter.

"Keluarnya semburan (air dan) gas ini belum bisa kita pastikan apakah berkaitan dengan padamnya api abadi atau tidak. Untuk menentukan ini, perlu dilakukan kajian lebih mendalam," ujarnya.

Sinung mengungkapkan, Api Abadi Mrapen baru pertama kali ini padam total. Sebelumnya pada tahun 1990-an Api Abadi Mrapen sempat meredup karena berkurang intesitas aliran gasnya, namun tidak sampai padam total.

"Api padam total baru terjadi kali ini. Di tahun 1990-an atau kalau tidak salah ingat di tahun 1996, Api Abadi Mrapen pernah berkurang Intensitas debit gasnya, tapi tidak sampai membuat padam," kata Sinung.

Sinung mengatakan, upaya untuk memulihkan api abadi pada tahun itu dilakukan dengan cara mengebor hingga kedalaman 20 meter.

"Setelah dibor ternyata keluar gasnya, intensitas nyala api kembali berkobar. Di tahun itu tidak sampai padam. Padam total baru terjadi kali ini," jelasnya.

Lihat juga video 'Api Abadi di Bojonegoro, Tak Padam Meski Diguyur Hujan':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2