Kebun Cerdas Air, Salah Satu Metode Bertani di Lahan Kering

Pradito Rida Pertana - detikNews
Minggu, 23 Agu 2020 14:53 WIB
Kebun cerdas air di Kapanewon Semanu, Gunungkidul, Minggu (23/8/2020).
Kebun cerdas air di Kapanewon Semanu, Gunungkidul, Minggu (23/8/2020). (Foto: Dok. UNY)
Gunungkidul -

Kekurangan air kerap menjadi masalah dalam mengembangkan pertanian, khususnya di Kabupaten Gunungkidul. Berkaca dari hal tersebut, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Sutrisna Wibawa mengembangkan kebun cerdas air yang diklaim dapat meningkatkan produktivitas petani.

Sutrisna mengatakan, kebun tersebut disebut cerdas air karena mampu menyesuaikan keadaan air Gunungkidul. Dia menyebut kebun cerdas air sudah dikembangkan bersama warga Kalisuci, Kapanewon Semanu.

"Jika kemarau terik, maka air yang digunakan sedikit. Sedangkan jika hujan deras dan lembab, maka ia akan menyerap air cukup banyak," kata Sutrisna melalui keterangan tertulis kepada wartawan, Minggu (23/8/2020).

Bahkan, saat ini kebun tersebut disebutnya telah memasuki masa panen. Hasil panen berbagai jenis tanaman mulai dari padi, sawi, selada, hingga lidah buaya.

"Inilah yang disebut tanaman cerdas air, dan eksekusinya cepat sekali. Ide yang saya cetuskan beberapa bulan lalu, ditindaklanjuti oleh Pak Wagiyo (pengelola Gabungan Kelompok Tani di Semanu), dan kini sudah panen dengan hasil yang luar biasa," ujarnya.

Kebun cerdas air di Kapanewon Semanu, Gunungkidul, Minggu (23/8/2020).Kebun cerdas air di Kapanewon Semanu, Gunungkidul, Minggu (23/8/2020). Foto: Dok. UNY

Secara rinci, Sutrisna menjelaskan bahwa sistem kebun cerdas air ini tidaklah rumit. Dia menyebut kuncinya adalah memanfaatkan air yang ada dengan seoptimal mungkin dengan memanfaatkan terpal sebagai alas tanah.

"Dengan terpal, maka air yang dialirkan ke tanaman tidak meresap sampai dalam tanah, jadi dibatasi mengairi tanah yang menjadi media tumbuh tanaman," ucapnya.

Sedangkan ketika musim penghujan tiba, air tidak menggenangi kebun tetapi mengalir ke ujung terpal. Menurutnya dengan sistem tersebut mampu menjawab solusi kurangnya air untuk sektor pertanian di Gunungkidul.

"Inilah yang kita sebut bersama Pak Wagiyo sebagai kebun cerdas. Selama ini solusi kita selalu terbatas pada mencari air. Padahal inovasi bisa dilakukan di segala bidang, termasuk cara bertanamnya," katanya.

Lebih lanjut, dia berkomitmen mengembangkan kebun cerdas ini ke daerah lain di penjuru Gunungkidul. Melalui kebun percontohan yang berhasil di Kalisuci, dia menunjukkan bahwa gagasannya dapat diaplikasikan sebagai karya nyata yang menyejahterakan masyarakat.

Lihat juga video 'Kasihan, Petani di Subang Gagal Panen Gegara Diserang Hama':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2