Bisa Dicontoh, Menanam Padi Tanpa Harus di Sawah dengan Metode Hidroganik

Eko Susanto - detikNews
Senin, 08 Jun 2020 18:45 WIB
Muh Khoirul Soleh yang menaman padi dengan hidroganik di atas kolam ikan miliknya di Magelang, Senin (8/6/2020).
Muh Khoirul Soleh yang menaman padi dengan hidroganik di atas kolam ikan miliknya di Magelang, Senin (8/6/2020). (Foto: Eko Susanto/detikcom)
Magelang -

Seorang warga Magelang, Muh Khoirul Soleh (46) memanfaatkan ruang kosong di atas kolam ikan untuk menanam padi. Metode tanam dengan media paralon tersebut dikenal dengan istilah hidroganik.

Pria yang disapa Irul ini menanam padi dengan hidroganik di atas kolam ikan nila yang berada di samping rumahnya, Kebonkliwon RT 09/RW 06, Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Kolam ikan tersebut berukuran 19x5 m, sedangkan media hidroganik yang dipakai ukuran 6x12 meter.

"Menanam padi hidroganik karena masih menggunakan media kompos dan sekam bakar, tidak seperti hidpronik. Kalau hidroponik murni air, ibaratnya di situ ada media semai," kata Irul saat ditemui, Senin (8/6/2020).

Irul bercerita, awalnya dia hanya coba-coba setelah melihat di media tentang hidroganik. Dia tertarik karena hasil panen disebut bisa empat kali lipat dari metode konvensional atau menanam padi di sawah.

Akhirnya, Irul mencoba menanam padi dengan hidroganik dengan memanfaatkan kolam ikan di rumahnya.

"Saya kan punya kolam. Kolam itu biasanya saya gunakan untuk menyiram bibit, terus di atasnya nggak ada apa-apanya. Kolam saya kasih ikan, saya coba alternatif pakai itu (menanam padi) siapa tahu bisa menopang ketahanan pangan minimal keluarga," tutur Irul.

Muh Khoirul Soleh yang menaman padi dengan hidroganik di atas kolam ikan miliknya di Magelang, Senin (8/6/2020).Muh Khoirul Soleh yang menaman padi dengan hidroganik di atas kolam ikan miliknya di Magelang, Senin (8/6/2020). Foto: Eko Susanto/detikcom

Alumnus Manajemen Pemasaran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Magelang itu menghabiskan 24 paralon sebagai media tanam padi. Untuk padi yang ditanam ada dua jenis yakni IR 64 yang berusia 1 bulan lebih 10 hari dan jenis padi merah putih yang berusia 1 bulan. Untuk jarak tanam 25 cm dan air paralon menyala terus-menerus.

Keuntungan dengan model ini, kata Irul, kontinuitasnya lebih banyak. Untuk menanam padi secara konvensional, dua sampai tiga kali maksimal ditanami dalam setahun. Sedangkan dengan hidroganik bisa lima kali jika dimaksimalkan.

"Kontinuitasnya lebih banyak, kalau konvensional kan paling dua sampai tiga kali maksimal satu tahun. Di situ, saya maksimalkan bisa lima kali. Kenapa bisa lima kali, karena seketika umur sudah 70 hari, saya sudah bikin semai. Begitu panen langsung dimasukkan lagi nggak usah ngluku (membajak), nggak usah macul (mencangkul). Jadi ada hemat 20 hari, terpangkas 20 hari, saya punya bibit lagi," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2