Ramai Chat Dosen 'Kok Kamu Atur Saya', Bagaimana Etika Komunikasi Tugas Via WA?

Kristina - detikNews
Kamis, 20 Agu 2020 12:40 WIB
Tangkapan layar medsos chat dosen Kok kamu atur saya, Kamis (20/8/2020).
Tangkapan layar medsos chat dosen 'Kok kamu atur saya'
Yogyakarta -

Tangkapan layar chat WhatsApp (WA) dosen 'Kok Kamu Atur Saya' ramai diperbincangkan di media sosial Twitter. Pakar komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengatakan perlunya etika yang harus dipatuhi baik dosen maupun mahasiswa dalam menjalin komunikasi lewat media sosial.

Tangkapan layar percakapan antara dosen dan mahasiswa di-posting di akun Twitter @collegemenfess. Dari tangkapan layar, tampak mahasiswa bertanya terkait draf skripsi yang dia kirim kepada dosen tersebut.

"Assalamualaikum. Maaf mengganggu waktunya, bu. Izin bertanya, untuk draft skripsi yg (disensor) kirim, apakah ada yg harus diperbaiki? Akan (sensor) perbaiki secepatnya, bu. Terima kasih," tulis mahasiswa tersebut.

Sang dosen kemudian menjawab, "Sdh perbaiki???? Klu sdh saya acc saja."

Kemudian dibalas oleh mahasiswa, "Sudah, bu, saya sudah kirim skripsi yg sudah saya perbaiki ke ibu. Kira-kira kapan saya bisa menemui ibu untuk tanda tangan di lembar persetujuan ya, bu? Terima kasih."

Pesan itu berbalas oleh dosen sebagai berikut, "Lho kok kamu mengatur saya. Etika km dmn. Baca sms yg km kirim. ok bye."

Si mahasiswa kemudian membalas pesan dengan minta maaf, " Maaf bu, saya tidak bermaksud seperti itu."

Bu dosen lalu mengirim pesan berbunyi, "Jgn sms saya lg ya."

Mahasiswa itu kemudian kembali meminta maaf, "Maaf bu, saya tidak bermaksud untuk mengatur. Maaf sekali, bu."

"Maaf, bu, saya tidak bermaksud untuk mengatur ibu. Saya tidak bermaksud...(tangkapan layar terpotong)"

Foto tangkapan layar itu dilengkapi dengan cuitan, "gue nangis banget selama ini ngga pernah diajar beliau. Kemarin beliau jadi dosen tamu di sidang gue. dosen lain ngga ada yg respon begitu. Gue nangis bgt."

Tangkapan layar medsos chat dosen 'Kok kamu atur saya', Kamis (20/8/2020).Tangkapan layar medsos chat dosen 'Kok kamu atur saya', Kamis (20/8/2020).

Posting-an itu ramai dibahas netizen. Terpantau hingga Kamis (20/8/2020) pukul 12.05 WIB siang ini, sudah di-retweet dan dikomentari sebanyak 6.700 kali dan disukai 15 ribu netizen.

Sejumlah netizen berkomentar dengan posting-an tangkapan layar yang menunjukkan percakapannya dengan dosen yang penuh canda dan santai. Ada juga netizen yang memberi masukan agar mahasiswa tersebut tak patah semangat dan tak terlalu memikirkan balasan pesan si dosen.

Di antaranya akun @hellosals_ mencuit, "kenapa ada etika ngechat dosen, tp gaada etika dosen ngebales cht mahasiswa, dibales seenkny gamslh de, lah kebanyakan ghosting gatau kmn dosennya."

Kemudian akun @Papaaww mencuit, "Aku kalo ngechat dosen satu2 dulu, misal beliau nanya sudah diacc ya aku jawab sudah, terus nunggu balesan lagi baru nanyain bisa ketemu kapan. Terus awalannya pasti panjang banget karena perkenalan dulu, walaupun aku yakin dosennya kenal aku tapi pasti perkenalan dulu. Semangat2."

Kesalahan persepsi pada saat menerima pesan tak jarang dialami oleh mahasiswa maupun dosen pada kasus bimbingan tugas akhir skripsi. Terlebih, saat ini proses bimbingan dialihkan secara virtual.

Menanggapi persoalan itu, pakar Komunikasi UNY Prof Suranto berbicara tentang adanya potensi kesalahpahaman yang terjadi saat komunikasi dilakukan melalui media, bukan bertatap muka langsung. Sehingga dia menekankan soal memposisikan diri seolah-olah sedang berhadapan muka secara langsung antara komunikator dengan komunikan merupakan kunci yang tepat dalam berkomunikasi lewat pesan singkat.

"Ya meskipun ini melalui media digital, kita, kedua belah pihak, dalam hal ini adalah dosen pembimbing dengan mahasiswa, harus tetap seolah-olah kita itu berhadapan langsung," jelasnya saat dihubungi detikcom, Kamis (20/8/2020).

Dengan memposisikan diri sedemikian, kata Suranto, baik komunikator maupun komunikan dapat memperhatikan norma dan etika yang baik. Kesepakatan waktu juga menjadi hal penting dalam etika komunikasi.

"(Dengan seolah-olah berhadapan langsung) persepsi kita dalam berkomunikasi itu akan tetap mengindahkan bagaimana kita berbicara, bagaimana kita menulis, bagaimana kita menetapkan waktu, dan sebagainya," jelasnya.

Dalam proses komunikasi, sense of human atau kepekaan manusia terhadap lawan bicara turut mempengaruhi proses interpretasi terhadap sebuah pesan.

"Dalam komunikasi itu ada yang kita sebut sense of human. Jadi kepekaan bahwa kita itu manusia yang memiliki perasaan, memiliki pikiran. Di mana ketika berkomunikasi dengan orang lain, secara otomatis sense of human kita itu akan bekerja. Jadi, kadang-kadang ya karena ini secara online, orang itu bisa salah interpretasi," paparnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2