Semarang Nomor 1 COVID-19 Terbanyak, Walkot Bicara Pasien Masuk RS Sudah Parah

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 15:08 WIB
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (Foto: dok Pemkot Semarang)
Semarang -

Kota Semarang menjadi wilayah yang tertinggi dalam jumlah kasus COVID-19 atau Corona di Jawa Tengah. Upaya memberikan sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan pun dibahas.

Hal itu juga menyusul adanya Inpres Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan ada penurunan kasus COVID-19 di wilayahnya namun memang urutan kasus positif masih tertinggi. Ia menjelaskan saat ini yang masih dirawat sekitar 500 orang, turun dari sebelumnya 950 orang.

"Kalau turun, turun. Tapi ya hitungannya masih tinggi tapi sudah turun kan dari 950 sekarang udah 500 berapa itu. Nanti ada beberapa hal yang memang kita akan berikan perubahan sekaligus mengumumkan sanksi bagi warga yang tidak pakai masker," kata Hendi, sapaannya, saat ditemui di Balai Kota Semarang, Kamis (6/8/2020).

Hendi membenarkan ketika ditanya sanksi tersebut termasuk menindaklanjuti Inpres yang dikeluarkan Presiden. Meski demikian pihaknya belum membeberkan sanksi apa yang akan diberikan dan masih di bahas bersama pihak terkait termasuk TNI dan Polri.

"Kita sudah diskusikan sama kawan-kawan, tinggal diputuskan bagian hukum. Pokoknya nanti dalam waktu dekat akan muncul peraturan yang tidak pakai masker akan diberi sanksi. Sanksinya apa? Ya ini sedang diproses, nanti pokoknya maksimal minggu depan lah sudah ada perwal aturan yang mengatur itu," jelasnya.

Selain itu, Hendi juga menanggi soal angka kematian mencapai 382 orang dan urutan kedua terbanyak setelah Surabaya, Hendi menjelaskan selain karena penyakit komorbid, banyak pasien yang dibawa ke rumah sakit ketika keadaannya sudah parah.

"Satu, mereka masuk rumah sakit sudah dalam kondisi yang kritis dan parah, artinya telat terdeteksi. Kedua, kematian itu disebabkan karena penyakit bawaan, istilahnya komorbid. Kemudian yang ketiga juga ada di kelompok usia yang rentan, sudah sepuh," tandasnya.

"Maka dari ketiga hal itu saya tetap memutuskan bahwa gugus tugas atau kemudian akan diubah satuan tugas itu harus tetap melakukan swab maupun rapid secara massal, untuk mendeteksi warga Semarang secara awal yang terkena positif Corona," imbuh Hendi.

Sementara itu dari laman https://siagacorona.semarangkota.go.id/ diketahui saat ini tercatat 557 kasus positif COVID-19 yang ditangani, dengan rincian 401 warga asli Kota Semarang dan 156 orang warga luar kota yang dirawat di Semarang. Untuk kesembuhan total 3.291 orang dan kematian total 481 orang dengan rincian 382 warga Semarang dan 99 warga luar Kota Semarang.

Diberitakan sebelumnya, Pemprov Jawa Tengah (Jateng) mencatat jumlah kasus positif virus Corona atau COVID-19 di wilayahnya saat ini mencapai 10.402 dan 916 orang di antaranya meninggal dunia. Dari peringkat COVID-19 di Jateng, jumlah kasus tertinggi ada di Kota Semarang sedangkan jumlah kasus terendah di Kota Tegal.

Selanjutnya
Halaman
1 2