Geger Inses Ibu-Anak Saat Suami Melaut di Sulut, Ini Kata Sosiolog UGM

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Selasa, 21 Jul 2020 19:06 WIB
Ilustrasi Fokus Inses Sulsel (Andhika Akbarayansyah/detikcom)
Foto: Ilustrasi Fokus Inses. (Andhika Akbarayansyah/detikcom)
Yogyakarta -

Pasangan ibu dan anak di Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), diamankan polisi setelah nyaris diamuk warga yang geram atas inses keduanya. Fenomena inses ini ternyata sempat menjadi budaya di suatu daerah.

Hal ini diungkapkan sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Soeprapto yang sempat melakukan penelitian soal inses. Dia menyebut daerah tertentu hubungan sedarah ini sempat wajar terjadi. Namun, lambat laun ada pergeseran persepsi masyarakat.

"Saya kebetulan, dua tahun lalu melakukan penelitian tentang inses, pada mulanya itu merupakan budaya dari kalangan tertentu yang menganggap itu (inses) adalah hal biasa," kata Soeprapto saat dihubungi detikcom, Selasa (21/7/2020).

"Tetapi belakangan ini, masyarakat mulai menyadari aspek kesehatan jika inses itu sangat memengaruhi janin dan juga dari aspek agama yang tidak memperbolehkan," lanjutnya.

Menurut Soeprapto, fenomena inses bisa terjadi karena dua kemungkinan pemicu. Pertama, pemicu eksternal berupa budaya yang mengizinkan perilaku inses terjadi. Kedua, pemicu internal karena pelaku kondisi psikologisnya tidak mampu mengendalikan hasrat seksualnya.

"Dalam kasus di Sulawesi, apakah ini inisiatif anak atau ibu melakukan tindak inses tadi. Kalau yang terjadi faktor yang kedua, yang berlaku adalah mereka berdua itu melakukan seks karena memiliki kesempatan bahwa sering serumah, dan punya hasrat seksual yang tinggi lalu mereka melakukan itu," jelasnya.

Namun, yang perlu diperhatikan yaitu kondisi orang yang melakukan inses. Apakah dalam kondisi terpengaruh minuman keras dan berapa kali tindakan inses itu dilakukan.

"Yang perlu diperhatikan mereka melakukan itu dalam kondisi apa? Tidak pengaruh miras atau bagaimana. Bisa dicek perilaku inses itu dilakukan sekali atau berulang. Jika berulang apakah karena mereka tidak memiliki kemampuan mengendalikan hasrat," ucap Soeprapto.

Dari aspek sosiologis, Soeprapto mengatakan harus ada kontrol sosial untuk mencegah inses. Namun, ternyata sarana pengendali sosial lemah. Dia pun menyarankan korban harus berani melaporkan perilaku inses.

"Harus ada sosialisasi kepada anggota masyarakat jika terjadi hal seperti itu agar berani untuk lapor. Karena salah satu yang menjadi penyebab berlangsungnya inses karena korban tidak berani lapor," terangnya.

Tonton video 'Kisah Pelaku Inses, Hasrat Seksual kepada Adik Kandung':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2