Analisis Sosiolog Soal Kasus Persetubuhan Sepasang Anak di Banyumas

Jauh Hari Wawan S. - detikNews
Minggu, 19 Jul 2020 12:54 WIB
Ilustrasi Pemerkosaan Anak
Ilustrasi. (Foto: Zaki Alfarabi/detikcom)
Yogyakarta -

Kasus persetubuhan sepasang anak di bawah umur yang terjadi di Banyumas membuat geger. Apalagi tindakan itu dilakukan oleh sepasang anak di bawah umur.

"Jadi yang jelas memang itu ada kesalahan atau ada ketidakmaksimalan dalam melakukan sosialisasi nilai dan norma budaya yang berlaku," kata sosiolog kriminal Universitas Gadjah Mada (UGM) Suprapto saat dihubungi wartawan.

Dia menyebut persetubuhan anak di bawah umur bermula dari masyarakat tertentu yang menganggap anak perempuan di usia remaja yang belum memiliki pasangan calon suami akan dianggap tidak laku. Namun, lambat laun persepsi itu bergeser.

"Itu yang kemudian lama kelamaan bergeser, diminta oleh orang tua atau tidak, mereka menjadi terbiasa untuk mendapatkan kenikmatan atau aktivitas seksual dalam kondisi yang masih dini karena orang tua mereka tidak memberikan kontrol yang kuat karena sudah dianggap sebagai hal yang permisif," jelasnya.

Oleh karena itu, Suprapto mengungkapkan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah kejadian serupa. Pertama melakukan sosialisasi terkait norma dan nilai budaya yang berlaku.

"Kalau menurut saya sosialisasi norma nilai budaya yang benar yang berlaku generik itu dilakukan terus menerus melalui berbagai kesempatan. Sosialisasi ini harus bersifat persuasif atau yang mengajak bukan hanya sekadar memberitahu," bebernya.

Selanjutnya, kontrol sosial terutama dari orang tua menurutnya harus diperketat. Hal ini penting untuk mencegah adanya perilaku yang menyimpang.

"Artinya ketika melihat ada perilaku yang berpotensi menyimpang dengan budaya setempat itu harus segera diantisipasi," tuturnya.

Tonton video 'Haru, Pemakaman Aulia yang Mayatnya 'Disembunyikan' Dalam Toren':

Selanjutnya
Halaman
1 2