Sebut Ponpes Mbah Moen Jadi Klaster Corona, Wasekjen PBNU Didesak Minta Maaf

Arif Syaefudin - detikNews
Selasa, 14 Jul 2020 23:51 WIB
Pengurus DPC PPP Rembang gelar tahlil wafatnya Gus Kamil, Selasa (14/7/2020).
Pengurus DPC PPP Rembang gelar tahlil wafatnya Gus Kamil, Selasa (14/7/2020). (Foto: Arif Syaefudin/detikcom)
Rembang -

Wakil Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arwani Thomafi mendesak agar Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Wasekjen PBNU) Masduki Baidlowi meminta maaf atas pernyataannya yang menyebut Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang asuhan mendiang Majid Kamil MZ atau Gus Kamil jadi klaster baru virus Corona (COVID-19).

Ponpes Al-Anwar Sarang, Rembang adalah pondok peninggalan almarhum KH Maimoen Zubair. Setelah Mbah Moen wafat, ponpes tersebut kemudian diasuh oleh putra-putranya, termasuk salah satunya adalah KH Majid Kamil yang meninggal dunia Minggu (12/7) lalu karena terinfeksi virus Corona.

Arwani meminta agar Masduki Baidlowi menyampaikan permohonan maaf kepada publik termasuk terhadap pihak Ponpes Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

"Harusnya ada permohonan maaf dari Wasekjen PBNU atau staf khusus Wapres. Ini harus menjadi pelajaran semua pihak untuk tetap menyampaikan informasi secara benar, proporsional dan sesuai kewenangannya," kata Arwani, Selasa (14/7/2020).

Hal tersebut disampaikan Arwani melalui teleconference di sela acara pembacaan yasin dan tahlil untuk memperingati 3 hari wafatnya Ketua DPC PPP Rembang Gus Kamil di kantor DPC Rembang malam ini. Gus Kamil merupakan putra ketiga dari almarhum KH Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen.

Arwani menyebut, pernyataan yang dilontarkan oleh Masduki Baidlowi yang menyebut tentang klaster Corona tidak proporsional. Sebab, terkait kondisi Corona, menurutnya harus disampaikan oleh tim gugus tugas.

"Penyebutan klaster baru penyebaran COVID-19 semestinya muncul dari lembaga yang memiliki otoritas penanganan COVID-19. Pernyataan yang muncul dari luar otoritas, alih-alih menenangkan masyarakat, penyebutan itu justru membuat ketidaknyamanan dan keresahan. Poin ini semestinya dapat dipahami oleh semua pihak, sehingga tidak menyebut sembarangan apalagi ngawur tanpa data," paparnya.

Di sisi lain, Arwani pun mengimbau agar seluruh pondok pesantren bersikap mawas diri terhadap penyebaran virus Corona. Yakni dengan menerapkan protokol kesehatan secara tegas.

"Sikap mawas dan waspada atas penyebaran COVID-19 ini, khususnya di lingkungan pondok pesantren sangat penting dilakukan. Kewaspadaan itu harus ditunjukkan secara konkret dengan langkah-langkah nyata oleh semua pihak khususnya pemerintah," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masduki Baidlowi menyebut ada enam pesantren yang menjadi klaster baru penyebaran COVID-19. Untuk itu, dia mengatakan, perlu ada kewaspadaan dalam hal pencegahan dan penanganan Corona.

"PBNU akan dalam beberapa hari ke depan akan keluarkan surat edaran dari PBNU untuk melakukan langkah-langkah yang bisa bagaimana agar pesantren tidak menjadi tempat penyebaran yang lebih luas," ucap Masduki saat dihubungi, Selasa (13/7/2020).

Selanjutnya
Halaman
1 2