Prediksi Reshuffle, Pakar UGM Soroti Menkes, Menaker, Mensos dan Mendikbud

Pradito Rida Pertana - detikNews
Selasa, 30 Jun 2020 15:16 WIB
Gestur dan ekspresi Presiden Jokowi (Tangkapan layar video Setpres RI/YouTube)
Foto: Gestur dan ekspresi Presiden Jokowi (Tangkapan layar video Setpres RI/YouTube)

Terobosan lain yang seharusnya dilakukan, kata Wahyudi, seperti meningkatkan tes swab kepada masyarakat. Sebab, saat ini banyak pihak yang menjadikan rapid test sebagai ladang bisnis.

"Seperti PCR seharusnya perlu ditambah, bukan hanya rapid test saja, karena PCR lebih akurat. Apalagi rapid test terkesan sudah dipolitisasi, karena hasil rapid hanya bisa berlaku 2 minggu dan kalau perlu lagi (syarat melampirkan hasil rapid test) harus rapid lagi, keluar uang lagi. Nah, itu sekadar contoh ya," katanya.

Selain Kemenkes, Wahyudi juga menyoroti kinerja Kementerian Sosial dan Kementerian Ketenagakerjaan. Menurutnya kinerja dua kementerian ini kurang maksimal, salah satu contohnya Kemensos yang masih berkutat dengan kurang tepatnya data penerima bansos.

"Terus seperti Kemensos tidak banyak gerak, Kemenaker tidak banyak gerak. Harusnya kan dipastikan bahwa alokasikan dana ke padat karya agar orang kena yang PHK bisa dapat kerjaan, ternyata ya berapa persen itu, masih di bawah lima persen yang terserap untuk padat karya," katanya.

"Jadi yang strategis untuk menangani krisis itu, terutama ini menyangkut kesehatan ya harusnya Kementerian Kesehatan. Setelah itu juga ada Kemensos, Kemenaker, Kemendikbud," imbuh Wahyudi.

Kemendikbud juga dinilai kurang maksimal bekerja karena banyak programnya yang tidak berjalan lancar. Dia mencontohkan program pembelajaran kampus merdeka yang sampai sekarang terobosannya tidak jelas.

"PPDB juga malah kacau, sistem pembelajaran daring juga tidak banyak terobosan dan itu mengecewakan menurut saya," tuturnya.

Wahyudi pun menyarankan kementerian tersebut untuk menerapkan ritme bekerja yang extra ordinary selama pandemi virus Corona. Dia yakin menteri yang bakal di-reshuffle memang dinilai tidak maksimal dalam bekerja.

"Jadi ada beberapa kementerian yang kinerjanya tidak betul-betul baik. Saya tahu memang tantangannya banyak, tapi menurut saya kalau memang dia tidak siap bekerja untuk rakyat, ya ganti aja," ucapnya.

"Tapi kalau soal siapa yang akan di-reshuffle saya kira memang sudah kelihatan ini sektor-sektor (kementerian) mana yang tidak jalan, padahal kita membutuhkan terobosan kebijakan," tutur Wahyudi.

Halaman

(ams/sip)