3 Peserta Ijtima Gowa Kena Corona, 1 Dusun di Klaten Dikarantina

Achmad Syauqi - detikNews
Senin, 20 Apr 2020 14:25 WIB
Portal dipasang di jalan kampung Desa Jelobo, Kecamatan Wonosari, Klaten
Foto: Portal dipasang di jalan kampung Desa Jelobo, Kecamatan Wonosari, Klaten. (Achmad Syauqi/ detikcom)
Klaten -

Satu dusun di Klaten, Jawa Tengah diisolasi mandiri usai tiga warganya yang merupakan peserta Ijtima Gowa, Sulawesi Selatan positif virus Corona atau COVID-19. Warga dusun yang terdiri dari 174 KK itu diminta tidak keluar rumah selama 14 hari.

"Yang isolasi hanya satu dusun. Isinya cuma dua RT saja karena di satu lokasi itu ada tiga yang positif dari peserta Ijtima di Gowa," kata Ketua Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian Corona atau COVID-19 Kecamatan Wonosari, M Nur Rosyid kepada detikcom, Senin (20/4/2020).

Rosyid mengatakan isolasi itu merupakan pilihan terbaik dari semua alternatif. Ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona yang lebih meluas.

"Pasien positif ada tiga yang dirawat tetapi jejaknya di lingkungan masih ada. Daripada berisiko, satu dusun akhirnya ditutup," kata Rosyid.

Sementara itu, Wakil Ketua Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian Corona atau COVID-19 Kabupaten Klaten, Jaka Sawaldi mengatakan ada 174 KK warga Dusun Jelobo Kulon yang diisolasi. Jaka menyebut pihaknya tidak melarang namun memberikan imbauan agar warga mengurangi aktivitas di luar rumah.

"Kita tidak memberikan larangan tapi memberikan anjuran untuk mengurangi risiko penyebaran agar diambil kesepakatan isolasi bersama di dusun itu dan mereka sepakat mengisolasi mandiri," jelas Jaka.

Hingga saat ini tercatat ada lima warga Klaten yang positif virus Corona. Terkait keputusan isolasi satu dusun itu, kata Jaka, merupakan inisiatif warga setempat.

"Setelah ada warga yang positif, akhirnya diambil kesepakatan di dusun itu dan kesepakatan untuk satu dusun. Makan dan minum, kita sediakan bantuan," terang Jaka.

Dia menyebut bantuan bahan pokok itu berlaku selama 14 hari, terhitung mulai hari ini. Dia mengaku tidak memberikan sanksi bagi warga yang bandel keluar dari karantina.

"Kita mendorong ada kesepakatan, soal sanksinya warga sendiri yang menentukan. Konsekuensinya, Pemkab hanya memberikan bantuan," lanjut Jaka.