Hapus Tato Calon Penghuni Surga, Eks Preman Ini Punya Panti Asuhan

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Senin, 10 Feb 2020 15:23 WIB
Panti Asuhan Islam Yatim dan Dhuafa Daarul Qolbbi Pondok Pesantren Tombo Ati Sleman milik Prianggono, Senin (10/2/2020).
Prianggono, mantan preman yang dirikan panti asuhan dan buka jasa hapus tato gratis di Sleman, Senin (10/2/2020). (Foto: Jauh Hari Wawan S/detikcom)
Sleman -

Penampilan Prianggono (43), pria asal Semarang, Jawa Tengah tampak urakan. Mengenakan kaus dengan rambut acak-acakan dan tato gambar rantai di lehernya, sosoknya mirip preman garang.

Namun jangan salah, Prianggono memiliki Panti Asuhan Islam Yatim dan Dhuafa Daarul Qolbbi Pondok Pesantren Tombo Ati, Sleman. Pri, sapaan akrabnya, saat ini juga membuka jasa hapus tato gratis. Dia mempersilakan siapa saja datang kepadanya tanpa syarat.

"Saya Prianggono, saya asal Semarang. Dulu saya seorang preman," ujar Pri saat ditemui di Warung Kongkosu, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, Senin (10/2/2020).

Pria yang saat ini tinggal di Dusun Prigen, Desa Widodomartani kini menyatakan sudah insaf dan bertobat. Dia memutuskan mendirikan panti asuhan sebagai jalan hijrahnya.

"Kenapa pilihannya panti? Karena katanya orang yang ngurusi anak yatim akan berdampingan dengan rasul (Nabi Muhammad SAW). Harapannya dengan dosa masa lalu saya itu bisa digugurkan oleh Allah dan bisa dekat dengan rasul," ungkapnya.

Hapus Tato Calon Penghuni Surga, Eks Preman Ini Punya Panti AsuhanPanti Asuhan Islam Yatim dan Dhuafa Daarul Qolbbi Pondok Pesantren Tombo Ati Sleman milik Prianggono, Senin (10/2/2020). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikcom

Sejauh ini, Pri telah menyantuni 21 anak yatim. Biasanya setiap kenaikan kelas ada anak asuh baru yang datang. "Ini 21 anak mulai dari SMA bahkan ada yang balita, tiap kenaikan kelas ada yang dititipkan," terangnya.

Panti itu mulai dirintis pada tahun 2013 di rumah mertuanya, Dusun Prigen, Desa Widodomartani. Butuh waktu sekitar 2,5 tahun hingga akhirnya panti asuhan dua lantai yang terletak di pinggir sawah itu bisa berdiri seperti saat ini.

Pri menceritakan bahwa mimpi untuk mendirikan panti asuhan berawal dari kamar kosnya.

"Mimpi saya untuk punya panti itu saya buat di kos-kosan daerah Deresan. Saya gambar panti asuhan di tembok kos, akhirnya dalam waktu satu tahun dua bulan panti saya sudah berjalan dan ada anaknya. Lalu saya mulai bangun panti di atas tanah milik simbah yang saya beli hingga tahun 2015 sudah berdiri," ungkapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2