Sidang Proyek Saluran Air Yogya

Dituntut 2 Tahun, Kontraktor Penyuap Jaksa Minta Dibui di Solo

Pradito Rida Pertana - detikNews
Kamis, 09 Jan 2020 17:08 WIB
Terdakwa suap proyek saluran air hujan Yogyakarta, Gabriella Yuan Anna Kusuma, di Pengadilan Tipikor Yogyakarta, Kamis (9/1/2020). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Yogyakarta - Terdakwa kasus suap proyek rehabilitasi saluran air hujan (SAH) Jalan Supomo Cs Yogyakarta, Gabriella Yuan Anna Kusuma, dituntut hukuman 2 tahun penjara. Dalam pleidoi atau pembelaannya, kontraktor asal Solo itu memohon majelis hakim menjatuhkan vonis yang lebih ringan dari tuntutan jaksa.

Permohonan itu disampaikan oleh penasihat hukum Gabriella pada sidang di Pengadilan Tipikor Yogyakarta.

"Berdasarkan fakta-fakta di persidangan, kami memohon kearifan majelis hakim agar mempertimbangkan dengan lebih seksama dan bijaksana untuk dapat diterapkan pasal yang lebih sesuai menurut keyakinan kami, yakni Pasal 13 UU 31 Tahun 1999 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP dengan hukuman yang lebih ringan daripada tuntutan JPU," kata penasihat hukum Gabriella, Widhi Wicaksono saat membacakan surat pleidoi, Kamis (9/1/2020).

Gabriella dituntut oleh jaksa penuntut umum (JPU) KPK dengan hukuman 2 tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider 3 bulan kurungan. Jaksa menerapkan Pasal 5 ayat (1) huruf a UU No 31 tahun 1999 juncto Pasal 2 UU No 20 tahun 2001 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP dalam tuntutan adalah tidak pas.


Gabriella didakwa memberi hadiah kepada jaksa Kejari Yogyakarta Eka Safitra dan jaksa Kejari Surakarta Satriawan Sulaksono sebesar Rp 221 juta terkait proyek SAH Dinas PUPKP Kota Yogyakarta tahun 2019.

Sesuai fakta persidangan, lanjut Widhi memaparkan, Eka dan Satriawan tidak pernah mengajak Gabriella untuk bertemu dan membahas sesuatu dengan Kepala Dinas PUPKP Kota Yogyakarta, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), kelompok pokja atau bagian pelayanan pengadaan Pemkot Yogyakarta, Ketua Tim TP4D Kejari Yogyakarta serta pihak manapun juga yang terkait dengan proyek tersebut.


Widhi menyebut kemenangan perusahaan Gabriella, PT Widoro Kandang jauh dari intervensi Eka. Juga tidak adanya pihak Dinas PUPKP Kota Yogyakarta dan panitia lelang yang menjadi terdakwa dalam kasus suap proyek SAH.

"Dengan demikian, jelas kemenangan PT Widoro Kandang sebagai pemenang untuk menjadi penyedia jasa proyek SAH Jalan Supomo tidak ada kaitan dengan kapasitas dan jabatan saksi Eka Safitra selaku jaksa, maupun anggota tim TP4D Kejari Yogyakarta, maupun saksi Satriawan Sulaksono selaku jaksa pada Kejari Surakarta," ujarnya.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3