Artsotika Muria: Festival Seni dan Gerakan Peduli Kawasan Muria

Akrom Hazami - detikNews
Minggu, 22 Des 2019 17:07 WIB
Artsotika Muria di Kudus, festival seni budaya sebagai perwujudan untuk melestarikan kembali alam Muria. (Foto: Akrom Hazami/detikcom)
Kudus - Kawasan perbukitan Muria memanjang dari Kabupaten Pati, Kudus, dan Jepara. Saat ini, kondisi alamnya disebut mulai rusak. Ditandai dengan beragam indikasi, seperti krisis air saat kemarau, populasi macan tutul dan hewan lainnya yang terancam, dan sedimentasi.

Kondisi itu mendorong kalangan yang berasal dari seniman, penggerak kebudayaan, aktivis lingkungan menggelar festival Artsotika Muria. Di dalamnya berisikan kegiatan sebagai perwujudan untuk melestarikan kembali alam Muria.

Acara ini bertitel Arsotika Muria I, mengusung judul 'Muriane Rusak, Jalmane Ngelak'. Event berlangsung sepekan, 14 Desember-21 Desember 2019 di Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus.

Pengagas Artsotika Muria, Widyo Leksono, menjelaskan Artsotika merupakan penggabungan dari kata art dan eksotika. Esensinya adalah membawakan kegelisahan tentang kerusakan Muria.

"Artsotika Muria adalah kegelisahan yang saya komunalkan, yang sebenarnya per individu teman seni, penggerak kebudayaan, ada kegelisahan terkait dengan kerusakan Muria di beberapa titik. Kesimpulannya menjaga desa terakhir di lereng Muria," kata pria yang akrab disapa Babahe, ditemui di lokasi acara akhir pekan ini.

Artsotika Muria: Festival Seni dan Gerakan Peduli Kawasan MuriaArtsotika Muria di Kudus, festival seni budaya sebagai perwujudan untuk melestarikan kembali alam Muria. (Foto: Akrom Hazami/detikcom)


Dia mencatat, kerusakan Muria terlihat pada tahun ini, yakni adanya kekeringan sehingga mengalami krisis air. Intinya, Artsotika Muria, kata dia, adalah memelihara, merawat, dan menumbuhkembangkan Muria. Yang meliputi Pati, Kudus, Jepara, dan juga makhluk hidup lain di wilayah tersebut.

"Ada makhluk hidup yang ada di situ. Ada macan tutul, elang Muria dan sebagainya. Dikhawatirkan anak cucu kita tidak mengenalnya. Sehingga kami punya inisiatif menguripi atau mempertahankan Muria," jelasnya.

Dia berharap dengan adanya kegiatan yang mereka adakan tahun ini akan timbul kesadaran warga untuk bersama menjaga kawasan Muria.

"Paling gampang lewat kebudayaan dan kesenian. Yuk, kita mengembalikan tradisi nenek moyang," kata dia.

"Harapannya bahwa Muria akan kembali eksotis menjadi indah. Orang kepanasan, bisa ke Muria, lebih sejuk," sambungnya.

Artsotika Muria: Festival Seni dan Gerakan Peduli Kawasan MuriaArtsotika Muria di Kudus, festival seni budaya sebagai perwujudan untuk melestarikan kembali alam Muria. (Foto: Akrom Hazami/detikcom

Terkait populasi macan tutul di kawasan perbukitan Muria, hal ini disinggung Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) saat hadir dan diskusi yang merupakan rangkaian acara Arsotika Muria. YKAN mengidentifikasi pergerakan 13 individu macan tutul di kawasan hutan Muria yang membentang di Kudus, Pati dan Jepara.

"Teridentifikasi 13 individu macan tutul dalam area studi seluas 53,32 km2 pada Agustus-November 2018," kata Stakeholder Engagement Manager YKAN, Rudi Zapariza.


Disinggung apakah hanya ada 13 ekor macan tutul saja yang tersisa di kawasan hutan Muria? Rudi menjelaskan kemungkinan masih ada banyak macan tutul di kawasan itu.

"Kemungkinan masih banyak. Tidak hanya 13 ekor," tutur dia.

"Kalau kami ambil puncak Muria di tengah. Daerah Jepara, Pati, Kudus. Itu yang paling banyak ditemukan macan. Jadi kami pasang kamera trap di beberapa titik. Jadi kan tiap 30 hari kami ambil memory card (kartu memori kamera trap)," terang dia.

"Saat dimasukkan (ke komputer ), hampir semua memori paling banyak macan tutul. Ternyata banyak, mereka punya pola sendiri-sendiri. Jadi kami menemukan 13 pola yang berbeda, kami sebut 13 individu macan. Nah macan tutul yang di Muria," beber dia.

Rudi menyinggung kondisi kawasan hutan dan bukit Muria yang saat ini kritis. Mulai dari sedimentasi yang parah di sungai dan titik lain.

"Akibat sedimentasi, air hujan yang turun, kemudian mengalir cepat tanpa bisa lagi tersimpan di tanah," imbuhnya.


Artsotika Muria: Festival Seni dan Gerakan Peduli Kawasan MuriaArtsotika Muria di Kudus, festival seni budaya sebagai perwujudan untuk melestarikan kembali alam Muria. (Foto: Akrom Hazami/detikcom)

Dalam Artsotika Muria, ragam kegiatan yang digelar yakni kamp konservasi, kerja bakti desa, workshop UMKM, apotek hidup, pegelaran wayang kulit, workshop penanggulangan bencana, bancakan, resik sendang, sarasehan Sendang Widodari, barongan, terbang papat, tari, rebana, pentas seni, Swatantu, dan wayang rotan.

Selanjutnya ada sarasehan foklore, sarasehan budaya Muria, pemutaran film, perform art, musik kampung Gagego, Kentrung Milenial Ken Palman, parade penyair muda, pasar tiban, pameran seni rupa, pameran foto, dan stand up comedy. (rih/rih)