Teror Kobra Marak di Permukiman Warga, Ini Kata Peneliti LIPI

Achmad Syauqi - detikNews
Selasa, 10 Des 2019 16:11 WIB
King kobra yang ditangkap di warung mi ayam di Klaten. (Achmad Syauqi/ detikcom)
King kobra yang ditangkap di warung mi ayam di Klaten. (Achmad Syauqi/ detikcom)
Klaten - Maraknya temuan ular kobra di permukiman penduduk di Kabupaten Klaten maupun di daerah lain menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah hal wajar. Sebab, pada musim hujan merupakan masa pecah telur atau penetasan ular.

"Ini kan musim hujan. Musim telur ular menetas dan termasuk jenis kobra," ungkap peneliti LIPI Amir Hamidy saat dihubungi detikcom, Selasa (10/12/2019).


Amir yang merupakan doktor dan peneliti Herpetologi Bidang Amphibi dan Reptil LIPI menjelaskan, saat menetas di musim hujan, ular berbeda dengan ayam. Ular akan meninggalkan telurnya.

"Beda dengan ayam. Ular jika menetas ditinggalkan induknya sehingga bisa kemana-mana," jelasnya.

Menurut Amir, masa penetasan telur ular berlangsung 2-4 bulan tergantung suhu. Biasa dimulai saat kemarau.

Proses menetas itu juga dialami ular jenis kobra. Apalagi kobra termasuk ular yang adaptif.


"Kobra ini adaptif. Bisa hidup dan bersarang di sekitar manusia," tambah Amir.

Kobra tidak segan bersarang di sawah, pekarangan maupun rumah. Selama lingkungan membuat nyaman, kobra bisa tinggal.

Lingkungan yang nyaman bagi kobra adalah lingkungan yang menyediakan pakan semisal tikus. Selain itu banyak tumpukan barang di lokasi.



Teror Kobra di Citayam Berlanjut Walau 30 Anaknya Telah Ditangkap:


Selanjutnya
Halaman
1 2