detikNews
Jumat 04 Oktober 2019, 16:27 WIB

Puncak Kemarau, Warga Gunungkidul Tampung Air dari Pipa PDAM yang Bocor

Pradito Rida Pertana - detikNews
Puncak Kemarau, Warga Gunungkidul Tampung Air dari Pipa PDAM yang Bocor Warga di Kecamatan Rongkop, Gunungkidul mengambil air dari pipa PDAM yang bocor. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Gunungkidul - Warga Dusun Condong, Desa Botodayaan, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul memanfaatkan air dari pipa bocor milik PDAM. Air yang ditampung di lubang tengah ladang dimanfaatkan warga agar bisa hemat biaya membeli air selama musim kemarau.

"Ini baru pertama kali saya ambil air di sini (lubang di tengah lahan Dusun Condong, Desa Botodayaan, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul). Memang airnya agak keruh, tapi gimana lagi, dari pada beli," ucap salah seorang warga Reti (55) kepada wartawan saat mengambil air di sebuah lubang, Dusun Condong, Desa Botodayaan, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul, Jumat (4/10/2019).

Mengingat untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga kerap membeli air per tangki kapasitas 5 ribu liter dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 160 ribu.

Warga di Kecamatan Rongkop, Gunungkidul mengambil air dari pipa PDAM yang bocor.Warga di Kecamatan Rongkop, Gunungkidul mengambil air dari pipa PDAM yang bocor. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

"Jadi setelah tahu ada bocoran air dari pipa itu warga membuat lubang untuk menampung air lalu diambil sesuai kebutuhan, dan ini sudah berlangsung sekitar tiga bulanan ini," katanya.


Reti menambahkan, lubang tersebut memiliki diameter dan kedalaman 30 cm. Karena itu, warga harus mengantre untuk mengambil air di lubang tersebut, mengingat kapasitas lubang tidak terlalu besar.



"Air yang saya ambil ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti untuk mandi dan lain-lain," ujarnya.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul menyebut beberapa sumber air di Gunungkidul mengalami penurunan debit air. Hal itu membuat BPBD mengalami kesulitan untuk melakukan dropping air bersih.

"Musim kemarau tahun lalu, tepatnya saat bulan Oktober seperti ini sumber-sumber air masih bisa diambil, tapi tahun ini bisa dibilang agak sulit karena (sumber airnya) mengering," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Gunungkidul, Edy Basuki saat dihubungi detikcom, Selasa (1/10/2019).


Edy menjelaskan, penurunan debit terjadi karena musim kemarau yang lebih panjang dibanding tahun lalu. Menurutnya, sumber air yang mengalami penurunan debit terjadi di Kecamatan Girisubo, Rongkop dan Karangmojo.

"Saat ini untuk dropping air di (Kecamatan) Girisubo dan Rongkop kita mengambil air dari Pracimantoro, itu karena sumber air di dua Kecamatan itu mengering," ucapnya.

"Dan untuk sumber air di (Kecamatan) Karangmojo sepertinya sudah tidak boleh diambil karena (debit airnya) menipis," sambung Edy.

Warga di Kecamatan Rongkop, Gunungkidul mengambil air dari pipa PDAM yang bocor.Warga di Kecamatan Rongkop, Gunungkidul mengambil air dari pipa PDAM yang bocor. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Lanjut Edy, menurunnya debit di sumber air tersebut membuat BPBD kesulitan menyalurkan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan tepat waktu. Hal itu karena BPBD terkendala masalah jarak pengambilan air yang membuat biaya operasional membengkak.

"Dan mengambil air di sumber (Pracimantoro) juga harus mengantri, biasanya satu jam mengantre tapi sekarang bisa lebih dari satu jam karena banyak mobil tangki yang mengambil air di situ," kata Edy.
(sip/sip)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com