detikNews
Selasa 17 September 2019, 19:17 WIB

Cari Air Bersih, Warga di Gunungkidul Manfaatkan Rembesan Pohon Beringin

Pradito Rida Pertana - detikNews
Cari Air Bersih, Warga di Gunungkidul Manfaatkan Rembesan Pohon Beringin Warga Tepus, Gunungkidul, memanfaatkan rembesan air dari pohon beringin, Selasa (17/9/2019). (Pradito Rida Pertana/detikcom)
Gunungkidul - Memasuki puncak musim kemarau, warga RT 1 dan RT 2 Dusun Duwet, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, memanfaatkan rembesan air dari pohon beringin untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan mereka rela bolak-balik dan menghabiskan waktu berjam-jam agar bisa mengambil air dari rembesan tersebut.

Saat detikcom menyambangi wilayah itu, tampak seorang pria tengah meletakkan jeriken di bawah saluran air yang terbuat dari bambu. Saluran tersebut mengalirkan air yang berasal dari sela-sela bebatuan yang pada bagian atasnya terdapat sebuah pohon beringin berukuran besar.

Sedangkan di bawah bebatuan tersebut terdapat sebuah cekungan yang berisi air. Tidak hanya satu cekungan, berjarak sekitar 2 meter dari cekungan pertama terdapat pula cekungan yang berisi air. Sembari duduk, pria itu tampak menunggu jerikennya terisi penuh.

Tampak pula beberapa ibu-ibu tengah menunggu giliran untuk mengambil air di cekungan tersebut. Namun, karena tidak ingin membuang waktu, ibu-ibu tersebut mengambil air di cekungan menggunakan gayung, bahkan menenggelamkan jerikennya agar cepat terisi penuh.

Musim Kemarau, Warga di Gunungkidul Manfaatkan Rembesan Air Pohon BeringinWarga mengambil air yang bersumber dari rembesan pohon beringin. (Pradito Rida Pertana/detikcom)

Warga setempat, Sartono (60), mengaku mengambil air yang berasal dari rembesan pohon beringin setelah mbelik (sumber air) Kali Wonosari mengering.

"Sejak mbelik kering, saya mengambil air di sini (rembesan air pohon beringin). Sehari bisa enam kali mengambil air, sekali mengambil dua jeriken kapasitas 20 liter," katanya, Selasa (17/9/2019).

"Biasanya saya mengambil air saat jam 4 pagi dan sore hari, kadang ya sampai malam kalau mengantre. Karena untuk mengisi penuh satu jeriken perlu waktu setengah jam," jelas Sartono.

Menurutnya, air rembesan pohon beringin itu sangat jernih. Karena itu, ia manfaatkan air dari rembesan pohon beringin untuk memasak, minum, dan mandi.

"Kalau beli air per tangki yang Rp 130 ribu itu penuh kapur, dan yang tidak berkapur harganya Rp 150 ribu. Daripada keluar biaya lebih, mending ambil air dari sini dan malah lebih jernih daripada beli air per tangki," imbuh Sartono.

Musim Kemarau, Warga di Gunungkidul Manfaatkan Rembesan Air Pohon BeringinRembesan air dari pohon beringin dialirkan warga ke jeriken. (Pradito Rida Pertana/detikcom)

Warga lainnya, Daliyem (50), juga mengaku dalam sehari bisa empat kali bolak-balik mengambil air bersih untuk memberi minum hewan ternak.

"Kalau saya sehari bisa 4-5 kali ambil air di sini. Nanti airnya saya taruh di gentong yang ada di gubuk saya. Biar sewaktu-waktu butuh air bisa langsung mengambil di gubuk dan tidak perlu turun lagi mengambil air," ucapnya.

Warga lainnya, Rumini (34), mengaku hari ini sudah ketiga kalinya mengambil air di cekungan tersebut. Ia memanfaatkan keberadaan sumber air ini sejak awal musim kemarau.

"Butuh air untuk masak, mandi, dan minum, apalagi airnya jernih," katanya.

Musim Kemarau, Warga di Gunungkidul Manfaatkan Rembesan Air Pohon BeringinFoto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Kepala Dusun Duwet, Taufik (24), menjelaskan warganya memang kerap memanfaatkan rembesan air dari pohon beringin saat musim kemarau. Menurutnya, keberadaan sumber air ini bisa dimanfaatkan puluhan keluarga di dua RT.

"Warga mulai banyak yang mengambil air di sini sejak bulan Juli. Biasanya yang mengambil air di sini warga RT 1 dan RT 2, ada 83 keluarga yang memanfaatkan keberadaan sumber air di Kali Wonosari," jelasnya.

Sebenarnya ada tiga sumber air di Dusun Duwet, yaitu Kali Wonosari, Gua Nglibeng, dan Kali Nduren. Namun air yang paling jernih berada di Kali Wonosari.

"Sumber air di Kali Wonosari ini berasal dari rembesan pohon beringin dan keluar dari sela-sela batu, dari dulu sudah seperti ini. Yang jelas meski debitnya tidak besar, air ini tidak pernah berhenti mengalir," ucapnya.

"Dan setiap musim kemarau warga pasti mengambil air dari sini, biasanya sama warga airnya dipakai untuk minum, masak, dan mandi," imbuhnya.

Musim Kemarau, Warga di Gunungkidul Manfaatkan Rembesan Air Pohon BeringinPohon beringin yang rembesan airnya diburu warga. (Pradito Rida Pertana/detikcom)

Terkait bantuan air bersih, Taufik mengaku dusunnya pernah menerima bantuan air bersih dari pihak swasta. Sedangkan dari BPBD, ia mengaku belum pernah menerimanya.

"Bantuan dropping ada, tapi dari swasta. Kalau BPBD belum ada, ya mudah-mudahan besok ada yang lebih memperhatikan warga Dusun Duwet karena warga di sini susah dapat air," ujar Taufik.


Simak juga video "Waduk Pacal Surut, Lahan Pertanian di 4 Kecamatan Kekeringan":

[Gambas:Video 20detik]


(skm/skm)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com