detikNews
Senin 02 September 2019, 19:41 WIB

Cerita Warga Gunungkidul, Gali Sejumlah Sumur Cari Air Bersih

Pradito Rida Pertana - detikNews
Cerita Warga Gunungkidul, Gali Sejumlah Sumur Cari Air Bersih Ngatijo menunjukkan titik sumur baru di Dusun Batur Turu, Desa Mertelu, Gedangsari yang tengah digali. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Gunungkidul - Sebagian warga Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul terpaksa menggali sejumlah sumur untuk mencari sumber air bersih di musim kemarau ini. Seperti di Desa Mertelu, dari empat titik sumur yang digali hanya satu sumur yang muncul debit air dan bisa dimanfaatkan oleh warga.

"Saya sama warga sudah buat sumur di empat titik, semuanya di RT 6 dan yang kasil (keluar air bersih) hanya satu titik, itu aja hanya bisa dimanfaatkan untuk sembilan orang," kata warga RT 6 Dusun Batur Turu, Desa Mertelu, Ngatijo (37) saat ditemui detikcom, Senin (2/9/2019).

"Kedalaman sumur yang digali bervariasi, ada yang 6, 8 dan 11 meter tapi kandas semua (tidak ada airnya). Padahal lokasi penggalian sumur ini tepat di bawah Embung Sriten, dan di Sriten sana digali 30 meter keluar air. Nah, harusnya kan di sini (Dusun Batur Turu) hanya perlu menggali beberapa meter saja sudah keluar (airnya), tapi kok malah tidak keluar, aneh kok," imbuh Ngatijo.
Ngatijo pun memperlihatkan salah satu sumur yang tengah digali tersebut. Letaknya di tengah persawahan yang tidak jauh dari rumahnya. Lubang sumur tertutup daun kelapa. Terdapat beberapa bambu yang dibangun untuk menyangga sebuah katrol untuk menimba air.

Sumur itu adalah titik baru yang ditemukan warga namun debit airnya sangat kecil. Warga pun akan menggali lebih dalam agar debit air bertambah banyak lagi.

"Yang ini baru sedalam 6 meter dan proses pengerjaannya baru 12 hari dengan sistem manual, maksudnya hanya digali pakai pacul, linggis dan godam," terangnya.

Ngatijo menyebut biaya untuk menggali sumur mencapai belasan juta rupiah.

"Kalau biayanya ada yang sampai Rp 11 juta, Rp 5 juta dam Rp 6 juta, dana itu dari hasil swadaya masyarakat. Tapi ya karena banyak yang kandas (titik sumur yang digali) saat ini warga hanya bergantung dari bantuan saja, dan kalau tidak ada bantuan cari yang mana saja yang ada (air bersih)," lanjutnya.

Cerita Warga Gunungkidul, Gali Sejumlah Sumur Cari Air BersihSumur yang tengah digali warga Dusun Batur. -- Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Warga setempat berharap pemerintah mau memberi bantuan sumur bor di Dusun Batur Turu. Hal itu akan sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat, khususnya saat musim kemarau.

Untuk saat ini, warga di dusunnya juga menggantungkan bantuan air bersih dari berbagai pihak. Namun karena bantuan itu tidak datang setiap hari, warga harus merogoh kocek pribadi untuk membeli air bersih.

Ngatijo menyebutkan membeli air bersih per tangki dengan kapasitas 5 ribu liter seharga Rp 350 ribu. "Biasanya saya beli air tangki isi 5 ribu liter, itu tidak sampai seminggu sudah habis. Ya gimana lagi, wong anggota keluarga saya banyak," ungkapnya.

Menurutnya, musim kemarau tahun ini terbilang paling parah karena berlangsung sekitar sembilan bulan.
Diwawancarai terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki, mengatakan bahwa Gedangsari memang masuk dalam daerah kekeringan. Namun ia menyebut kecamatan tersebut kerap menerima bantuan air bersih dari berbagai pihak.

"Kecamatan Gedangsari punya tangki dan dari PMI juga sudah sering memberi bantuan air bersih. Tapi kalau memang butuh droping, kita bisa bantu, tinggal ajukan saja karena anggaran kami masih cukup sampai pekan pertama di bulan Oktober," katanya saat dihubungi wartawan.

Data BPBD saat ini ada 135.696 warga yang terdampak kekeringan di Gunungkidul, tersebar di 14 kecamatan.


Krisis Air Bersih di Jambi, 5.000 Liter Disalurkan Gratis:

[Gambas:Video 20detik]




(skm/skm)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com