detikNews
Sabtu 17 Agustus 2019, 12:31 WIB

Semangat Tunanetra Ikuti Upacara HUT ke-74 RI di Solo

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Semangat Tunanetra Ikuti Upacara HUT ke-74 RI di Solo Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Solo - Tak terlalu sulit bagi Etik Winarsih (40) menjadi petugas pengibar bendera dalam upacara HUT ke-74 RI di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Bhakti Candrasa, Solo. Meskipun tunanetra, dia mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Bendera terbalik adalah hal yang dikhawatirkan Etik dan kawan-kawan. Namun kali ini bendera dapat berkibar dengan posisi benar.

Etik juga harus berjalan sekitar 15 meter menuju tiang bendera. Dia dan dua rekannya pun mampu berjalan hingga tepat di depan tiang bendera.

Bagi Etik, tugas tersebut hanyalah mengulang kebiasaan sekitar 20 tahun lalu. Saat bersekolah di panti sosial itu, dia memang kerap ditunjuk menjadi pengibar bendera.

"Ini latihan cuma dua kali. Tanggal 14 Agustus sama tadi pagi," kata wanita yang lulus tahun 2.000 dari panti tersebut, Sabtu (17/8/2019).

Dia mengaku tidak memiliki cara khusus dalam menjalankan tugas. Dia hanya banyak menggunakan intuisinya untuk berjalan dan mengibarkan bendera.

"Ya cuma kira-kira saja. Memang tadi jalannya ke tiang agak miring dikit, tapi wajar," ujar dia.

Dia mengaku bersemangat mengikuti upacara ini. Rumahnya yang berada di Boyolali tak menyurutkan niatnya mengikuti upacara di panti sosial yang ada di Jalan Radjiman, Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo itu.
Semangat Tunanetra Ikuti Upacara HUT Ke-74 RI di SoloFoto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

"Tadi pagi berangkat jam 07.00 WIB naik bus dari Boyolali. Diantarkan anak saya yang kebetulan libur 17 Agustus," ungkapnya.

Petugas upacara lainnya, Topo Sukendro (53), juga melaksanakan tugas membaca teks pembukaan UUD 45 dengan baik. Tanpa membaca teks, warga Petoran, Jebres, Solo itu tetap lancar dan hafal.

"Dulu waktu sekolah di sini kan saya ketua asrama. Saya galakkan agar semua siswa hafal pembukaan UUD 45. Karena sudah pernah hafal, kemarin hanya tinggal mengulang," kata dia.

Topo mengaku sudah diberi huruf braile sebagai alat bantu dalam bertugas. Namun dia memilih menggunakan ingatannya.

"Kalau pakai braile nanti malah pengucapannya jadi lambat. Belum lagi kalau tangannya gatal, harus cari, sampai baris mana tadi," ujarnya.

Menurutnya, kegiatan upacara hari ini sebagai bentuk kecintaan para tunanetra kepada NKRI. Difabel, kata dia, memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Ini sebagai tanda bahwa kondisi fisik tidak mengurangi kecintaan kami terhadap tanah air," tutupnya.

Adapun upacara tersebut diikuti oleh hampir 100 orang tunanetra. Mereka terdiri dari siswa aktif di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Bhakti Candrasa ataupun alumninya.

Upacara berlangsung khidmat meskipun hanya sederhana. Usai pembubaran pasukan, seluruh peserta secara spontan bertepuk tangan riang karena upacara berjalan lancar.


(bai/bgs)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com