DetikNews
Rabu 13 Februari 2019, 11:00 WIB

Kata Ketua Asosiasi Bawang Merah tentang Subkhan yang Curhat ke Sandi

Imam Suripto - detikNews
Kata Ketua Asosiasi Bawang Merah tentang Subkhan yang Curhat ke Sandi Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Juwari. Foto: Imam Suripto/detikcom
Brebes - Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Juwari bicara tentang sosok Muhamad Subkhan yang ramai dibicarakan setelah videonya curhat ke Sandiaga Uno beredar. Juwari menegaskan Subkhan adalah petani bawang tulen yang memiliki kegiatan lain sebagai aktivis pergerakan.

Subkhan, kata Juwari, merupakan warga Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes yang tetap menekuni usaha bidang pertanian meski sibuk sebagai aktivis LSM.

"Saya kenal sekali, dia itu petani. Keluarga dia juga petani. Hanya saja dia punya kegiatan sampingan sebagai aktivis LSM dan bahkan pernah menjadi Komisioner KPU Brebes," tegas Juwari, dihubungi detikcom, Rabu (13/2/2019).

Meski demikian, lanjut Juwari, Subkhan tidak masuk dalam keanggotaan Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) yang dipimpinnya. Namun dia menegaskan status Subkhan sebagai petani tak perlu diragukan.

Juwari menjelaskan tidak semua petani bawang masuk dalan keanggotaan ABMI. Juwari memperkirakan, hanya 5 persen petani bawang yang masuk dalam keanggotaan ABMI.


"Kebetulan yang masuk ABMI itu adalah petani yang sering berkumpul dan aktif di sosmed. Namun yang tidak masuk ABMI jumlahnya sangat banyak," ungkapnya.

Usaha di bidang penanaman bawang merah, tidak hanya dijalani oleh warga yang berprofesi sebagai petani. Tidak sedikit warga Brebes yang berprofesi sebagai PNS, Polri, TNI dan pedagang juga ikut berkecimpung dalam pertanian bawang merah.

Juwari lebih lanjut menerangkan, petani bawang terbagi dalam beberapa golongan. Petani dengan lahan garapan di bawah 0,2 Ha, jumlanya paling banyak dan masuk dalam golongan menengah bawah. Mereka yang menggarap sawah 0,2 hingga 0,5 ha termasuk golongan menengah. Sedangkan lahan garapan 0,5 ha ke atas masuk kategori petani menengah ke atas.

"Saya prediksi jumlah petani golongan menengah ke bawah ada 60 persen, menengah 30 persen dan kalangan atas 10 persen," terangnya.


Untuk petani golongan menengah ke bawah merupakan kelompok paling riskan terkena dampak fluktuasi harga. Karena mereka menanam dengan modal yang cekak dan uangnya bersumber dari pinjaman bank.

Diuraikan lebih lanjut, sumber modal petani juga bermacam-macam. Ada yang utang di bank, jual aset dan kerjasama dengan toko obat.


"Jadi tidak heran jika pas rugi karena harga anjlok mereka terlilit utang bank," tandasnya.

Namun demikian, banyak juga petani petani Brebes yang masuk kategori golongan kaya. Mereka memiliki modal berlipat dan tidak begitu merasakan dampak yang besar saat harga anjlok.

"Ada yang menanam bawang hingga ratusan hektar dan modalnya kuat. Mereka kaya-kaya punya mobil bagus dan rumah mewah. Jadi saya tidak setuju kalau orang menstigma bahwa petani bawang itu identik dengan miskin. Mengenakan topi caping celana komprang dan memanggul cangkul," pungkasnya.


Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di detik.com/pemilu


Saksikan juga video 'Bakal Hapus Impor BBM, Prabowo-Sandi Siapkan Bioenergi':

[Gambas:Video 20detik]


(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed