Tentang Masjid Jogokariyan, Masjid Kampung di Yogya yang Mendunia

Usman Hadi, Sukma Indah Permana - detikNews
Senin, 28 Jan 2019 15:17 WIB
Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Foto: Usman Hadi/detikcom
Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Foto: Usman Hadi/detikcom
Yogyakarta - Masjid Jogokariyan Yogyakarta menjadi perbincangan hangat menyusul aksi pelemparan batu oleh massa konvoi kemarin. Di sisi lain, masjid kampung ini memiliki sejarah panjang dan juga dikenal dunia.

Masjid ini dibangun pada tahun 1966 dan mulai digunakan pada 1967. Nama masjid diambil dari nama kampung di mana masjid itu berdiri, Kampung Jogokariyan. Tepatnya ada di Jalan Jogokariyan 36, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta

Hal ini mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad SAW yakni memberi nama masjid sesuai dengan di mana masjid itu berada.

"Rasulullah berdakwah di Quba, namanya Masjid Quba, beliau berdakwah di Bani Salamah, masjidnya juga namanya Bani Salamah sesuai dengan nama tempatnya," jelas salah seorang pengurus masjid di bidang kesekretariatan Masjid Jogokariyan, Enggar Haryo Panggalih saat ditemui detikcom pada 2015 silam.


Pembangunan masjid ini berawal dari wakaf seorang pedagang batik dari Karangkajen, Yogyakarta. Awalnya masjid terletak di sebelah selatan kampung Jokogkariyan, namun seiring berjalannya waktu, takmir masjid pertama yakni Ustadz Amin Said mengusulkan untuk memindahkan masjid ke tengah kampung.

Hingga akhirnya sampai saat ini dengan segala perkembangannya Masjid Jogokariyan berdiri di sudut perempatan kampung.

Pembangunannya bertahap. Awalnya masjid ini hanya terdiri dari sebuah bangunan inti saja. Baru kemudian berkembang, setelah tahun 2006, pengurus masjid mendirikan Islamic Center di sisi timur bangunan utama.

Pada 2006, ada sebuah rumah warga di sebelah masjid yang runtuh. Dia menawarkan pihak masjid untuk membeli lahan tersebut. Hingga luas kompleks masjid bertambah.


Dari penawaran itu kemudian pihak masjid membuka kesempatan infaq bagi siapapun yang berkenan. Di Islamic Center Masjid Jogokariyan inilah segala kegiatan pelayanan jamaah banyak dilakukan.

Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Foto: Usman Hadi/detikcom

Ada 28 divisi yang bekerja. Di antaranya biro klinik, biro kaut, dan komite aksi untuk umat.

Banyaknya kegiatan yang berjalan di masjid Jogokariyan inilah yang membuat masjid ini tak pernah sepi. Meski di luar Bulan Ramadan, jamaah salatnya selalu ramai. Hal ini menarik perhatian masyarakat muslim tak hanya di luar Yogyakarta tapi juga luar negeri. Masjid juga memiliki website sederhana.

"Banyak yang studi banding. Beberapa tahun lalu, parlemen Eropa ke sini. Pernah juga ulama Palestina berkunjung," jelas Galih.


"Mereka juga bertanya kok bisa masjid kampung, karena kelas kami kelas kampung, bukan masjid agung, masjid kota tapi kok bisa mendunia," imbuhnya.

Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Foto: Usman Hadi/detikcom

Galih mengatakan rahasianya ada pada sebuah prinsip yang dipegang para pengurus masjid dan masyarakat sekitar. Pengurus masjid bukan sekedar mengurus masjid tapi juga melayani jamaah.

"Kita punya klinik, ada divisi-divisi yang langsung ke masyarakat. Kotak infaq yang besar dan lubangnya juga besar, kalau ada yang mau ngasih Rp 5 juta juga masuk," tutur Galih.

Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Foto: Usman Hadi/detikcom

Galih menilai masyarakat melihat bagaimana uang dari infaq berputar untuk kepentingan jamaah. Dan menurutnya, sudah seharusnya seperti itu. Uang perolehan infaq seharusnya segera digunakan untuk keperluan umat.

"Bukan diendapkan, tapi selalu diputar. Selalu ada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk jamaah," tuturnya.


Kembali ke insiden yang terjadi di kompleks masjid ini, Ketua Takmir Masjid Jogokariyan, Muhammad Fanni Rahman meminta penggerak aksi lempar batu meminta maaf.

"Tokohnya (sudah) mewakili mereka minta maaf. Kedua, pelaku atau penggeraknya itu juga harus minta maaf, tidak harus ke masjid silakan (meminta maaf) di tempat netral," ujar Fanni saat ditemui wartawan di Kampung Jogokariyan, Senin (28/1/2019).

Fanni menjelaskan untuk menyelesaikan perkara ini, aparat Kecamatan, Polsek, dan Koramil Mantrijeron berupaya memediasi perkara ini. Hasilnya disepakati agar tokoh dan penggerak pelemparan batu ke arah Masjid Jogokariyan meminta maaf.

"Kesepakatan dua hal, kesepakatan damai. Karena juga ini isu sensitif berbeda dengan kejadian yang lain. Kami juga enggak mau dibawa ke urusan politik. Karena pelakunya juga teman-teman sudah tahu orang-orangnya itu," tuturnya.

"Biar clear, karena saya butuh untuk itu. Karena apa? Untuk meredam situasi. Sesepuhnya (tokoh simpatisan parpol) sudah minta maaf. Tapi pelaku penggeraknya (belum), satu orang saja harus minta maaf," pungkas dia.





Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di detik.com/pemilu


(sip/mbr)